Sabtu pagi seharusnya menjadi waktu bagi Aqeela untuk bergelut dengan tumpukan naskah atau sekadar memanjakan diri dengan masker wajah sambil menonton tutorial memasak di YouTube. Dengan mengenakan kaus lengan panjang longgar warna lilac dan hijab kaos yang praktis, ia baru saja hendak menyeduh teh saat bel rumah berbunyi dengan nada yang sangat bersemangat.
Aqeela melirik jam dinding. Masih pukul sembilan pagi. Arhan sendiri masih berada di lantai atas, mungkin sedang bergelut dengan maket bangunan atau sekadar menikmati waktu istirahatnya.
Saat pintu dibuka, Aqeela hampir saja menjatuhkan cangkirnya. Di depan pintu, berdiri Ibu mertuanya bersama Sang Ayah, lengkap dengan tentengan plastik berisi buah-buahan dan senyum yang... mencurigakan.
"Surprise! Mama sama Papa kangen, jadi mampir sebentar," seru Ibu Arhan sambil langsung masuk dan memeluk Aqeela erat.
"Eh, Mama, Papa... Mari masuk. Arhan masih di atas, biar Aqeela panggilkan ya?" Aqeela mencoba bersikap seramah mungkin meski jantungnya mulai berdegup kencang. Ia tahu, kunjungan mendadak seperti ini biasanya membawa misi tertentu.
Tak lama, Arhan turun dengan wajah bantal dan kaus oblong abu-abu. Ia tampak sama terkejutnya dengan Aqeela.
"Ma? Pa? Kok nggak bilang-bilang mau ke sini?"
"Kalau bilang nanti kamu malah siap-siap. Mama mau lihat gimana kalian kalau lagi nggak akting," goda Ibu Arhan sambil duduk di sofa ruang tamu yang minimalis.
Suasana awalnya berjalan hangat. Mereka berbincang soal pekerjaan Arhan dan bagaimana Aqeela mulai terbiasa mengurus rumah. Namun, suasana berubah drastis saat mereka mulai menyeruput teh hangat buatan Aqeela.
Ibu Arhan meletakkan cangkirnya perlahan, matanya menatap Aqeela dengan intensitas yang membuat Aqeela mendadak salah tingkah.
"Qeel, Arhan... Mama nggak mau basa-basi ya. Kalian sudah sebulan nikah. Mama lihat kalian juga sudah mulai kompak,"
Arhan berdeham, ia sepertinya sudah mencium arah pembicaraan ini. "
Ma, baru sebulan..."
"Justru itu!" potong Ayah Arhan yang sejak tadi lebih banyak diam.
"Qeel, kamu tahu kan umur kamu sekarang sudah berapa? Tiga puluh itu umur yang krusial buat wanita. Kami ini sudah tua, inginnya sebelum mata kami tertutup, sudah ada cucu yang lari-lari di rumah ini."
Deg. Kata tiga puluh dan cucu, menghantam Aqeela tepat di ulu hati. Ia melirik Arhan yang kini menunduk, memutar-mutar tutup toples di atas meja.
"Aqeela paham, Pa," jawab Aqeela pelan, suaranya sedikit bergetar.