Senin pagi yang biasanya sibuk dengan tenggat waktu naskah, kini ditambah dengan satu beban "tugas negara" yang dikirimkan melalui pesan singkat oleh Ibu Arhan. Pesan itu berisi sebuah alamat rumah sakit di daerah Jakarta Pusat, lengkap dengan nama dokter spesialis kandungan senior dan jam praktiknya.
Mama sudah pesankan tempat buat kalian jam 4 sore ini. Jangan lupa minta surat keterangan atau foto bareng Dokternya ya, buat bukti ke Mama kalau kalian beneran berangkat. Ini demi kebaikan kalian juga, Sayang.
Aqeela Xavira menghela napas panjang di depan layar komputernya. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Bukti? Serius, Ma? Kita ini suami-istri atau lagi wajib militer?" gumamnya pelan.
***
Pukul tiga sore, sebuah pesan masuk dari Arhan Wijayatna.
Sudah siap? Saya sudah di depan kantor kamu. Kita turuti saja kemauan Mama kali ini supaya beliau tenang
Aqeela segera merapikan tasnya, membetulkan letak pashmina warna nude yang dipadukan dengan kemeja tunik warna lavender dan celana putih. Saat keluar lobi, ia melihat mobil Arhan sudah menunggu. Arhan sendiri tampak sedikit gelisah di balik kemudi. Ia mengenakan kemeja polos warna abu-abu yang lengannya digulung setengah, memperlihatkan jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mas Arhan beneran mau melakukan ini?" tanya Aqeela saat sudah duduk di samping suaminya. Arhan memacu mobilnya perlahan.
"Kalau kita nggak berangkat, Mama bakal datang ke rumah tiap hari dan menginterogasi kita lebih parah dari ini, Qeel. Anggap saja ini bagian dari poin nomor empat di kontrak kita, akting di depan orang tua."
"Tapi ini aktingnya sampai ke ruang obgyn, Mas," balas Aqeela pelan.
Rumah sakit itu tampak megah, namun aromanya selalu membuat Aqeela gugup. Mereka duduk di ruang tunggu yang didominasi oleh pasangan suami-istri. Ada yang sedang mengelus perut buncit, ada yang sibuk melihat hasil USG, dan ada pula yang terlihat sama tegangnya dengan mereka.
Arhan berkali-kali membenarkan posisi duduknya. Rambut two block-nya yang biasanya tertata rapi kini sedikit berantakan karena ia terus-menerus menyugar rambutnya dengan cemas.

"Keluarga Bapak Arhan Wijayatna?" panggil seorang perawat.
Keduanya berdiri serentak, seolah sedang dipanggil masuk ke ruang sidang. Di dalam ruangan, seorang dokter wanita paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya menyambut mereka dengan senyum ramah.
"Silakan duduk, Mas Arhan dan Mbak Aqeela. Wah, pasangan serasi ya," puji Dokter Ratna.
"Jadi, rencananya mau program hamil atau sekadar konsultasi?"