Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #10

Kado Merah Maroon #10

Malam itu, Jakarta baru saja usai diguyur hujan sisa-sisa badai sore. Arhan Wijayatna pulang sedikit lebih lambat dari biasanya karena ada syukuran kecil-kecilan di kantornya. Sebagai arsitek senior yang baru saja melepas masa lajang, ia menjadi sasaran empuk godaan rekan-rekan sejawatnya.

Arhan masuk ke rumah dengan menjinjing sebuah kotak besar berbungkus kertas kado warna emas metalik. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun ada gurat kebingungan saat ia meletakkan kotak itu di atas meja makan.

"Baru pulang, Mas?" Aqeela muncul dari arah dapur, masih mengenakan pashmina instan warna abu-abu dan daster batik lengan panjang yang sopan namun nyaman. Ia baru saja selesai merapikan mukena setelah salat Isya.

"Iya, tadi ada makan-makan bentar di kantor. Terus ini... ada kado susulan dari Bagas dan tim divisi dua," jawab Arhan sambil melonggarkan ikatan dasinya.

Aqeela mendekat, matanya berbinar melihat kotak yang cukup besar itu.

"Wah, dari teman-teman kantor Mas? Tumben banget baru dikasih sekarang."

Arhan duduk di kursi makan, menyugar rambut two block-nya yang sedikit lepek.

"Kata Bagas, ini 'kado spesial' yang sengaja dikirim telat supaya kita nggak kaget di awal. Saya sendiri nggak tahu isinya apa, tapi mereka ketawa-ketawa pas ngasih ini tadi."

Aqeela menarik kursi di samping Arhan. Rasa penasaran sebagai seorang editor naskah yang terbiasa dengan plot twist mulai bangkit.

"Buka sekarang yuk? Aku penasaran. Biasanya kalau teman kantor cowok yang ngasih, isinya kalau nggak jam dinding ya mesin kopi."

Arhan mengangguk.

"Silakan, buka saja."

Aqeela mulai menyobek kertas kado emas itu dengan hati-hati. Di baliknya, terdapat sebuah kotak hitam elegan tanpa merk yang terlihat sangat mahal. Rupanya bukan mesin kopi, kado itu terasa cukup ringan.

"Kotaknya eksklusif banget, Mas. Jangan-jangan isinya set pisau dapur premium atau pajangan kristal?"

Lihat selengkapnya