Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #11

Poin Nomor Enam #11

Sisa hujan semalam. Di dalam rumah minimalis yang biasanya sunyi, suara alarm dari kamar Aqeela terdengar sahut-menyahut dengan alarm dari lantai atas. Aqeela Xavira terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Kejadian "kado merah tua" semalam memang meninggalkan kecanggungan, tapi entah kenapa, hal itu justru meruntuhkan sedikit demi sedikit rasa asing di antara dirinya dan Arhan.

Aqeela bergegas mengambil air wudu. Setelah mengenakan mukena putih bersih dengan detail bordir bunga kecil di pinggirannya, ia berdiri di depan cermin sejenak. Ia teringat poin nomor enam di kontrak mereka: Ibadah Bersama.

Selama ini, Arhan selalu beralasan lelah atau bangun terlambat. Namun, setelah kejadian di rumah sakit dan pembelaan Arhan di depan orang tuanya, Aqeela merasa ini saat yang tepat untuk menagih janji itu. Dengan langkah perlahan, ia menaiki tangga menuju lantai dua.

Ia mengetuk pintu kamar Arhan pelan.

"Mas Arhan? Sudah bangun?"

Hening sejenak, sampai terdengar suara kunci diputar. Arhan muncul di balik pintu. Ia sudah mengenakan sarung tenun berwarna cokelat tua dan baju koko putih yang masih rapi. Wajahnya terlihat segar, sisa air wudu masih tampak membasahi ujung rambut two block-nya.

"Eh, Mas sudah wudu?" tanya Aqeela sedikit terkejut. Arhan mengangguk kecil.

Iya. Saya baru mau turun ke bawah. Kita... jadi salat jamaah?" . Aqeela tersenyum di balik mukenanya, sebuah senyum yang membuat matanya menyipit manis.

"Jadi, Mas. Kan sudah janji."

Mereka menggelar sajadah di ruang tengah, area yang biasanya hanya menjadi saksi bisu keheningan mereka. Arhan berdiri di depan sebagai imam, sementara Aqeela berada tepat di belakangnya.

"Luruskan dan rapatkan safnya," ujar Arhan dengan suara rendah namun mantap.

Saat Arhan mulai mengangkat takbiratul ihram, “Allahu Akbar,” Aqeela merasakan getaran aneh di dadanya. Suara Arhan saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ternyata sangat merdu dan tenang. Tidak ada lagi kesan dingin atau kaku; yang ada hanyalah ketulusan yang mengalir dalam setiap bacaan salatnya.

Lihat selengkapnya