Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #12

Wanita itu, Bernama Salsa #12

Selasa pagi yang tenang seharusnya menjadi momen bagi Aqeela Xavira untuk menikmati jatah cuti tahunannya. Dengan mengenakan daster panjang berwarna soft mint dan hijab kaos instan yang senada, ia berniat menghabiskan waktu dengan merapikan rak buku dan membaca ulang beberapa naskah yang menarik. Arhan sudah berangkat sejak pukul tujuh tadi, meninggalkan kecupan singkat di kening…yang kini mulai menjadi kebiasaan baru dan pesan agar Aqeela tidak lupa makan siang.

Namun, ketenangan itu pecah saat bel rumah berbunyi berkali-kali dengan nada yang tidak sabar. Aqeela mengernyit. Apakah paket buku pesatannya datang secepat ini? pikirnya.

Saat pintu dibuka, Aqeela terpaku. Di depannya berdiri seorang wanita cantik dengan rambut panjang yang ditata sempurna. Ia mengenakan terusan berwarna maroon yang elegan, namun matanya yang indah tampak sembap dan merah. Wajah itu... Aqeela mengenalnya. Itu adalah wajah yang ada di dalam kotak kayu di ruang kerja Arhan.

Wanita itu adalah Salsa.

"Cari siapa ya?" tanya Aqeela, mencoba tetap tenang meski jantungnya mulai berpacu liar.

Salsa tampak terkejut melihat Aqeela. Ia menatap Aqeela dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan bingung.

Arhan... ada? Ini rumah Arhan Wijayatna, kan?"

"Mas Arhan sedang di kantor. Saya... istrinya. Ada yang bisa dibantu?" jawab Aqeela setegas mungkin.

Mendengar kata istri, Salsa seolah tersengat listrik. Ia mundur satu langkah, wajahnya yang semula sedih kini berubah menjadi pucat pasi.

"Istri? Arhan... sudah menikah?"

Aqeela mengangguk pelan.

"Kami sudah menikah lebih dari sebulan yang lalu. Silakan masuk dulu kalau ada perlu."

Meski hatinya dipenuhi rasa was-was, Aqeela tetap mengedepankan kesopanan. Ia mempersilakan Salsa duduk di sofa ruang tamu…sofa yang sama tempat ia dan Arhan berdebat soal kontrak tempo hari.

Salsa duduk dengan bahu yang layu. Ia tidak meminum teh yang disuguhkan Aqeela. Air matanya mulai menetes satu per satu.

"Saya nggak tahu... Saya benar-benar nggak tahu dia secepat itu mencari pengganti."

Aqeela duduk di kursi tunggal di hadapan Salsa.

 "Maaf, Mbak Salsa. Ada apa sebenarnya? Bukannya Mbak... bukannya Mbak sudah menikah?"

Salsa tertawa getir, sebuah tawa yang penuh luka.

Lihat selengkapnya