Keheningan di ruang tamu itu terasa mencekik. Arhan masih berdiri mematung di dekat pintu, sementara Salsa bangkit dari sofa dengan air mata yang terus mengalir. Aqeela sudah menghilang di balik pintu kamar, memberikan privasi yang sebenarnya terasa seperti duri di dalam hati Arhan.
Arhan meletakkan kantong plastik nasi Padang di atas meja konsol dengan gerakan mekanis. Matanya menatap Salsa, dan untuk sesaat, jantungnya berkhianat. Ada denyut perih yang mendadak muncul saat melihat wajah yang selama tujuh tahun ini menjadi satu-satunya alasan ia bekerja keras membangun rumah ini. Aroma parfum melati yang sama, cara Salsa menyeka air mata dengan ujung jemarinya, semuanya memicu memori yang belum benar-benar terkubur sempurna.

"Kenapa kamu di sini, Sal?" tanya Arhan. Suaranya tidak sedingin biasanya; ada getaran samar yang menunjukkan bahwa benteng pertahanannya sedang diguncang gempa.
"Han... aku baru tahu. Aku baru tahu kamu sudah menikah," isak Salsa. Ia melangkah mendekat, dan kali ini, Arhan tidak langsung mundur. Ia mematung, seolah-olah kakinya tertanam di lantai kayu yang dulu mereka pilih bersama.
"Kenapa secepat itu, Han? Apa artinya tujuh tahun itu kalau dalam hitungan bulan kamu sudah bisa pamer istri baru?"
Arhan menelan ludah. Suaranya parau.
"Secepat itu? Kamu yang pergi, Sal. Kamu yang membiarkan aku hancur sendirian."
"Tapi aku membatalkannya, Han! Aku nggak sanggup!" Salsa kini sudah berada tepat di depan Arhan. Ia memberanikan diri menyentuh lengan kemeja Arhan.
"Aku melarikan diri karena aku hanya ingin kamu. Aku menutup diri karena malu, tapi aku pikir... aku pikir cinta kita sekuat itu. Aku pikir kamu akan menungguku."
Arhan menatap tangan Salsa di lengannya. Ingatan tentang bagaimana mereka merencanakan setiap sudut rumah ini kembali berputar seperti film lama. Ada bagian dari dirinya yang ingin sekali merengkuh wanita itu, menanyakan semua luka yang ia simpan selama menghilang. Luka tujuh tahun itu bukan sekadar angka; itu adalah bagian dari identitas Arhan.
"Menunggu apa, Sal?" suara Arhan melembut, dan itu menakutkan bagi dirinya sendiri.
"Aku nggak tahu kamu membatalkan pernikahan itu. Yang aku tahu, dunia aku runtuh."
Salsa mendongak, melihat keraguan di mata Arhan. Ia menangkap celah itu.