Tetapi yang terjadi rupanya tak berjalan beriringan dengan yang di katakana Arhan hari itu. Sejak kedatangan Salsa tempo hari, suasana di rumah minimalis mereka tidak lagi sama. Hangatnya subuh berjamaah dan tawa di meja makan seolah menguap, berganti dengan keheningan yang jauh lebih mencekam daripada awal pernikahan mereka. Arhan kembali menjadi sosok yang asing. Ia sering pulang larut malam, dan jika pun di rumah, ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya yang terkunci rapat.
Aqeela mencoba bertahan. Ia mencoba percaya pada kata-kata Arhan setelah Salsa pergi dari rumah mereka. Bahwa, masa lalu tidak akan lagi mempengaruhi suasana di rumah ini. Bahwa mereka akan membuat kenangan-kenangan baru di rumah ini, agar kenangan tentang orang dari masa lalu itu pelan-pelan bisa menguap. Tetapi rupanya, pria itu mudah sekali berubah perangainya.
Aqeela tetap menyiapkan sarapan, tetap menyapa dengan senyum pastelnya, meski hatinya perlahan mulai retak. Puncaknya adalah Kamis malam, saat Arhan pulang dengan aroma parfum melati yang samar, aroma yang Aqeela tahu persis bukan miliknya.
"Mas sudah makan?" tanya Aqeela lembut, mencoba memecah keheningan di ruang tengah.
Arhan tidak menoleh. Ia sibuk melepaskan jam tangannya dengan gerakan kaku.
"Sudah di luar tadi."
"Sama Mbak Salsa?"
Langkah Arhan terhenti di anak tangga pertama. Ia berbalik, menatap Aqeela dengan tatapan yang kembali dingin dan tajam, seperti Arhan yang pertama kali ia kenal.
"Bukan urusan kamu, Qeel."
"Mas, kita punya kontrak. Poin nomor empat, kita harus menjaga perasaan satu sama lain di depan orang tua, dan poin nomor enam soal ibadah bersama. Tapi Mas bahkan nggak mau salat jamaah lagi sama aku sejak dia datang," suara Aqeela bergetar.
Arhan tertawa getir, tawa yang terdengar sangat jauh.
"Kontrak? Kamu sendiri yang bilang kalau kita menikah tanpa cinta, kan? Sekarang saat pemilik cinta itu kembali dan membawa kebenaran bahwa dia nggak pernah menikah, apa kamu pikir aku bisa tetap akting jadi suami yang sempurna buat kamu?"
Aqeela terpaku.