Tekanan di kantor Arhan Wijayatna mencapai titik didih. Proyek pembangunan resor di Bali yang selama ini ia kerjakan dengan darah dan air mata terancam lepas. Sebuah konsorsium besar tiba-tiba muncul sebagai kompetitor terberat, dipimpin oleh seorang arsitek sekaligus pengusaha muda yang reputasinya sedang naik daun, Biru Bramasta.
Siang itu, Arhan panik. Dokumen revisi final yang ada di dalam flashdisk tertinggal di atas meja kerjanya di rumah. Karena tidak mungkin meninggalkan rapat koordinasi yang krusial, ia terpaksa menghubungi Aqeela. Suaranya di telepon masih terdengar dingin dan kaku, sisa-sisa jarak yang ia bangun sejak bertemu Salsa kembali.
"Tolong antarkan ke lobi kantor saya sekarang. Saya nggak bisa pulang," ujar Arhan tanpa basa-basi sebelum mematikan sambungan.
Aqeela, yang masih dalam masa cutinya, segera bersiap. Ia mengenakan celana kulot warna nude dan tunik panjang warna biru pastel. Hijab pashmina sutranya ia lilitkan dengan rapi, meski matanya masih menyiratkan kelelahan batin. Ia tidak ingin memperkeruh suasana. Baginya, membantu pekerjaan Arhan adalah bagian dari kewajibannya sebagai partner, meski hati suaminya sedang bertualang di tempat lain.
Sesampainya di lobi gedung perkantoran mewah di kawasan Sudirman itu, Aqeela berdiri di dekat resepsionis sambil menggenggam flashdisk perak milik Arhan. Matanya menyapu ruangan, mencari sosok Arhan.
"Aqeela? Qeela Xavira?"
Sebuah suara bariton yang lembut memanggil namanya. Aqeela menoleh dan seketika terpaku. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan kemeja flanel yang dilapisi blazer kasual. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, membingkai sepasang mata yang memancarkan keteduhan. Senyumnya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, tenang dan menyenangkan.
"Biru?" bisik Aqeela tidak percaya.

"Biru Bramasta?"
Biru tertawa kecil, melangkah mendekat.
"Wah, nggak menyangka bisa ketemu kamu di sini. Kamu makin... segar ya, Qeel. Masih suka pakai warna pastel ternyata."
Aqeela tersenyum canggung. Biru adalah sahabat karibnya saat kuliah, pria yang dulu selalu ada untuk mendengarkan curhatannya, bahkan pria yang sempat dikabarkan memiliki perasaan lebih padanya sebelum mereka hilang kontak karena Biru melanjutkan studi ke Jerman.
"Lagi apa di sini, Qeel? Ada urusan pekerjaan?" tanya Biru ramah.
"Aku... aku lagi nunggu suami aku. Mau antar barangnya yang tertinggal," jawab Aqeela jujur.
Senyum Biru sedikit memudar, namun ia tetap menjaga kesopanannya. Matanya melirik cincin yang melingkar di jari manis Aqeela.