Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #16

Amarah atau Cemburu #16

Sabtu siang itu, rumah minimalis mereka terasa jauh lebih luas dan sunyi dari biasanya. Arhan baru saja terbangun dari tidur siangnya yang tidak nyenyak, efek dari begadang menyelesaikan revisi tender yang terus-menerus digempur oleh tim Biru Bramasta. Ia turun ke bawah dengan kaos oblong hitam, berharap mencium aroma kopi atau setidaknya melihat sosok Aqeela yang biasanya sedang sibuk dengan naskahnya di ruang tengah.

Namun, ruangan itu kosong. Tidak ada daster pastel yang melintas, tidak ada suara langkah kaki kecil di atas lantai kayu. Arhan berjalan ke dapur; meja makan bersih, hanya ada tudung saji yang menutupi sepiring nasi goreng yang sudah dingin.

Arhan melirik jam dinding. Sudah pukul tiga sore. Ia mencoba menghubungi ponsel Aqeela, namun hanya nada sambung yang terdengar tanpa jawaban. Perasaan gelisah yang aneh mulai merayap di dadanya, rasa gelisah yang selama ini ia pikir hanya milik Salsa.

Di sisi lain kota, Aqeela sedang berdiri di tengah sebuah galeri seni yang tenang. Cahaya lampu sorot menyinari lukisan-lukisan abstrak yang menggantung di dinding putih bersih. Di sampingnya, Biru Bramasta berjalan dengan tenang, sesekali menyesuaikan letak kacamatanya.

"Lukisan ini mengingatkanku pada proyek akhirmu dulu, Qeel. Berantakan tapi punya emosi yang kuat," ujar Biru sambil tersenyum teduh.

Aqeela tertawa kecil, tawa yang sudah lama tidak muncul secara lepas.

"Itu sindiran atau pujian, Biru? Tapi ya, aku butuh melihat sesuatu yang berwarna hari ini. Rasanya otakku sudah terlalu penuh dengan naskah dan... hal lain."

Biru menatap Aqeela dengan tatapan yang sangat dalam, seolah bisa membaca setiap guratan lelah di wajah wanita itu.

"Kamu nggak pandai berbohong, Qeela. Mata kamu nggak bisa menyembunyikan kalau rumah tangga kamu lagi nggak baik-baik saja."

Aqeela mengalihkan pandangannya kembali ke lukisan.

"Semua pernikahan punya tantangannya sendiri, kan? Aku cuma sedang mencoba bertahan di jalurnya."

"Tapi bertahan sendirian itu melelahkan," bisik Biru pelan.

Pukul tujuh malam, Aqeela baru sampai di rumah. Saat ia membuka pintu depan, ia dikejutkan oleh sosok Arhan yang sudah berdiri di ruang tamu dengan tangan bersedekap. Lampu ruangan sengaja dipadamkan, hanya menyisakan cahaya remang dari arah dapur.

"Dari mana?" tanya Arhan. Suaranya rendah, namun penuh penekanan.

Lihat selengkapnya