Suara riuh tepuk tangan di ruang rapat besar itu seolah menjadi latar musik yang paling indah bagi Arhan Wijayatna. Setelah berminggu-minggu bergelut dengan revisi naskah desain, perhitungan struktur yang rumit, dan ancaman dari kompetitor tangguh, tim penilai akhirnya menjatuhkan pilihan pada konsep resor miliknya. Ia berhasil mengalahkan Biru Bramasta.
Hal pertama yang terlintas di benak Arhan bukan lagi soal bonus atau jabatan. Tanpa ia sadari, tangannya langsung merogoh saku, mencari ponsel untuk menghubungi satu nama, Aqeela.
"Qeel! Kita menang! Proyek Bali jatuh ke tangan Saya," seru Arhan saat sambungan telepon diangkat. Suaranya dipenuhi kegembiraan yang tulus, meluluhkan dinding es yang sempat ia bangun selama beberapa hari terakhir.
Aqeela di seberang telepon terdiam sejenak, lalu terdengar helaan napas lega.
"Alhamdulillah, Mas. Aku tahu Mas pasti bisa. Selamat ya."
"Makasih, Qeel. Dengar, untuk merayakan ini dan juga untuk minta maaf soal sikap saya kemarin-kemarin…kita makan malam di luar ya? Saya sudah reservasi di tempat yang kamu suka. Jam tujuh Saya jemput di rumah," ujar Arhan penuh harap.
"Boleh, Mas. Aku tunggu ya," jawab Aqeela lembut.
Pukul lima sore, Arhan sedang merapikan meja kerjanya, bersiap untuk pulang dengan perasaan ringan. Namun, sebuah panggilan masuk membuat dunianya kembali mendung. Nama Salsa berkedip di layar.
Arhan ragu, tapi ia akhirnya mengangkatnya.
"Han... tolong aku..." Suara Salsa terdengar pecah oleh tangis yang hebat.
