Malam Pertama
Langkah Arhan terasa berat saat memasuki pelataran rumah. Pikirannya masih terbagi antara isak tangis Salsa di telepon dan ancaman dingin Aqeela yang tak terduga. Namun, saat mesin mobil dimatikan, keheningan rumah menyambutnya dengan atmosfer yang berbeda. Tidak ada lampu teras yang menyala terang, hanya pendar remang dari balik jendela ruang tamu.
Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood dan lavender dari lilin aromaterapi langsung menyergap indra penciumannya. Wangi itu menenangkan, namun sekaligus membangkitkan debar aneh di dada Arhan. Rumah itu sepi, namun terasa hidup.
"Qeel? Aqeela?" panggil Arhan pelan. Suaranya bergema di ruang tengah yang gelap.
Tidak ada sahutan. Arhan berjalan menuju kamar bawah, kamar yang selama ini menjadi benteng privasi Aqeela. Ia melihat sinar temaram kekuningan merembes dari celah bawah pintu. Arhan menarik napas panjang, tangannya ragu sejenak sebelum memutar knop pintu.
Pintu itu tidak dikunci.
Saat pintu terbuka, Arhan terpaku di ambang pintu. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa lilin aromaterapi yang diletakkan di sudut-sudut strategis, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding. Di tengah ruangan, membelakangi pintu, berdiri seorang wanita yang seolah-olah keluar dari dunia yang berbeda.
Arhan mengerutkan kening, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Untuk pertama kalinya selama mereka tinggal satu atap, ia melihat Aqeela tanpa hijab. Rambut hitamnya yang lurus, tebal, dan panjang tergerai indah hingga ke pinggang, memantulkan cahaya lilin dengan lembut. Pemandangan itu begitu asing namun sangat mempesona, membuat Arhan menyadari betapa banyak hal tentang istrinya yang selama ini sengaja ia abaikan.
Aqeela berbalik perlahan.
Arhan tertahan di tempatnya. Aqeela mengenakan kado pernikahan dari Bagas yang dulu sempat menjadi bahan candaan mereka, sebuah slip dress satin berwarna merah maroon. Kain itu jatuh dengan sempurna di tubuh Aqeela, memberikan kontras yang tajam dan berani pada kulit putihnya yang biasanya tertutup rapat.