Malam Jumat yang tenang itu menjadi saksi bisu runtuhnya tembok terakhir yang memisahkan Arhan Wijayatna dan Aqeela Xavira. Di bawah pendar cahaya lilin yang perlahan meredup dan aroma sandalwood yang masih tersisa di udara, segala kontrak, batasan, dan keraguan yang sempat mereka susun rapi seolah terbakar habis.
Arhan, sang arsitek yang selalu mendewakan logika dan struktur, akhirnya menyadari bahwa keindahan yang paling hakiki tidak ia temukan dalam sketsa bangunan mana pun, melainkan pada ketulusan dan keberanian istrinya. Sosok Aqeela malam itu, dengan rambut hitam panjang yang tergerai dan gaun satin merah maroon…benar-benar menjungkirbalikkan dunianya. Arhan tidak hanya sekadar kagum, ia merasa seperti baru saja menemukan harta karun yang selama ini ia injak namun tak pernah ia sadari nilainya.
Keintiman yang mereka bagi bukan sekadar pemenuhan kebutuhan lahiriah, melainkan sebuah bentuk penyerahan diri dan rekonsiliasi. Dalam setiap sentuhan, Arhan seolah sedang meminta maaf atas setiap luka yang ia goreskan, dan Aqeela menerimanya dengan kehangatan yang meluruhkan sisa-sisa duka di hati Arhan.
Waktu seolah berhenti berputar, hingga akhirnya suara alarm dari ponsel Aqeela memecah keheningan kamar yang sejuk.
Tit... tit... tit...
Aqeela adalah yang pertama kali mengerjapkan mata. Ia merasakan beban hangat di pinggangnya, lengan kokoh Arhan yang memeluknya erat seolah takut ia akan menghilang. Ini adalah pertama kalinya mereka tidur di satu ranjang, dalam posisi yang begitu dekat hingga napas Arhan yang teratur terasa di tengkuknya.
Aqeela meraba nakas, mematikan alarm dengan gerakan pelan agar tidak mengganggu suaminya. Namun, gerakan itu justru membuat Arhan terjaga. Arhan tidak langsung melepaskan pelukannya, ia justru semakin mengeratkan lengannya dan menyembunyikan wajahnya di bahu Aqeela yang halus.
"Mas... sudah bangun?" bisik Aqeela. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun terdengar sangat lembut di telinga Arhan.
"Belum mau bangun," gumam Arhan parau, suaranya teredam di ceruk leher Aqeela.
"Masih mau di sini."