Arhan berdiri terpaku di ruang tengah yang sunyi. Potongan kertas kontrak dan cincin di atas meja itu seolah menjadi nisan bagi kebahagiaan yang baru saja ia rasakan beberapa jam lalu. Di tengah kekacauan pikirannya, ponsel Arhan bergetar. Sebuah nomor yang tidak ia simpan, namun ia tahu siapa pemiliknya, mengirimkan sebuah titik lokasi.
Temui aku di kedai kopi dekat gerbang perumahanmu. Sekarang. Ini soal Aqeela.
Tanpa membuang waktu, Arhan memacu mobilnya. Dadanya sesak oleh amarah, cemburu, dan rasa takut yang bercampur aduk. Saat ia sampai, Biru sudah duduk di sana, menyesap kopi hitam dengan ekspresi yang sangat tenang, kontras dengan Arhan yang berantakan.
"Duduk, Han," ujar Biru pendek.
Arhan tidak duduk. Ia mencengkeram pinggiran meja, menatap Biru dengan sorot mata tajam.
"Di mana Aqeela? Kenapa dia nggak di rumah?"
Biru mendongak, membetulkan letak kacamatanya dengan perlahan.
"Dia aman. Tapi kalau kamu tanya kenapa dia nggak di rumah, jawabannya ada pada dirimu sendiri. Kamu baru saja mematahkan sesuatu yang baru saja ia bangun dengan susah payah."
Arhan terdiam, rahangnya mengeras.
"Tadi dia menangis di mobilku," lanjut Biru, suaranya tetap tenang namun dingin.
"Dia menceritakan semuanya. Tentang pernikahan kontrak kalian, tentang S.O.P yang kalian buat, dan tentang bagaimana dia merasa hanya menjadi pelarian dari kegagalanmu dengan Salsa."
Deg. Jantung Arhan seolah berhenti.