Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #22

Kamar 704 #22

Mesin mobil menderu memecah kesunyian jalan raya yang mulai lengang. Arhan mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Di kursi penumpang, kunci kartu hotel pemberian Biru seolah mengejeknya, sebuah benda plastik kecil yang memegang kunci masa depannya.

Pikiran Arhan berputar liar. Setiap lampu merah terasa seperti keabadian. Ia memaki kebodohannya sendiri. Mengapa ia harus berbohong soal Salsa? Mengapa ia harus menemui masa lalunya di saat masa depannya sedang mekar dengan begitu indahnya? Aqeela, wanita yang selalu terlihat kuat dengan senyum tipisnya itu, ternyata menyimpan luka yang begitu dalam akibat perjanjian pernikahan mereka yang seharusnya tidak perlu ada sejak awal.  Satu kesempatan terakhir. Kalimat Biru terngiang seperti lonceng kematian sekaligus harapan.

Arhan melirik jam di dasbor. Pukul sebelas malam lewat. Ia membayangkan Aqeela di dalam kamar hotel itu, mungkin sedang duduk di tepi ranjang dengan mata sembab, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu bandara. Arhan tahu kebiasaan istrinya itu, Aqeela mencintai suara mesin pesawat yang lepas landas karena baginya itu adalah simbol dari sebuah pelarian yang sah.

"Jangan pergi, Qeel. Tolong jangan pergi," bisik Arhan pada udara kosong.

Sesampainya di hotel, sebuah bangunan modern dengan fasad kaca yang menjulang tinggi di dekat perimeter bandara. Arhan tidak memedulikan tatapan aneh petugas valet. Ia melompat keluar dari mobil, menyerahkan kunci begitu saja, dan berlari menuju lobi.

Lantai marmer yang dingin memantulkan bayangan Arhan yang tampak kacau. Kemejanya kusut, rambutnya tak beraturan, dan napasnya memburu. Ia segera menuju lift, menekan tombol lantai tujuh dengan tidak sabar. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan denting lift yang menandakan setiap lantai yang terlewati.

Tujuh.

Lift terbuka. Arhan berlari menyusuri lorong yang dilapisi karpet tebal, meredam suara langkah kakinya. Ia mencari nomor kamar 704. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan kartu akses itu. Ia menghirup napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum menghadapi badai yang ia ciptakan sendiri.

Klik.

Lampu indikator berwarna hijau. Arhan mendorong pintu dengan perlahan.

"Aqeela..." suaranya parau, penuh dengan kerendahan hati yang jarang ia tunjukkan.

Namun, tidak ada jawaban. Kamar itu kosong.

Tempat tidur king-size di tengah ruangan tertata sangat rapi, seolah tidak pernah disentuh. Tidak ada tas di atas meja, tidak ada buku catatan yang biasanya selalu dibawa Aqeela, dan tidak ada aroma parfum sandalwood lembut yang menjadi ciri khas istrinya.

Arhan melangkah masuk dengan kaki lemas. Ia memeriksa kamar mandi; kering dan dingin. Ia memeriksa lemari, kosong. Di atas meja kerja kecil di sudut ruangan, ia menemukan sesuatu. Bukan surat panjang penuh air mata, melainkan hanya selembar struk pembayaran hotel dan sebuah catatan kecil dari pihak resepsionis.

Arhan segera berbalik dan berlari kembali menuju lobi. Ia hampir menabrak seorang staf hotel yang sedang merapikan troli bagasi.

"Malam, Pak. Ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis wanita di meja depan, terkejut melihat pria yang tadi masuk dengan terburu-buru kini kembali dengan wajah pucat pasi.

"Kamar 704. Atas nama Aqeela. Dia... dia di mana?" tanya Arhan cepat.

Petugas itu mengetikkan sesuatu di komputer dengan gerakan yang terasa sangat lambat di mata Arhan.

"Ibu Aqeela? Beliau sudah melakukan checkout sekitar lima belas menit yang lalu, Pak."

"Lima belas menit?" Arhan terperangah.

"Tapi... tapi dia baru saja sampai di sini sekitar satu jam yang lalu, kan?"

Lihat selengkapnya