Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #23

Bertemu Salsa #23

Aqeela berdiri di balik pilar besar Terminal 3, memperhatikan punggung Arhan yang perlahan menjauh dengan bahu yang merosot lesu. Kakinya terasa lemas, seolah seluruh kekuatannya tersedot habis setelah konfrontasi singkat tadi. Ia melihat Arhan sempat berhenti di depan pintu kaca otomatis, menoleh sekali lagi dengan tatapan kosong, sebelum benar-benar hilang di balik kegelapan area parkir.

Aqeela menghela napas panjang, sebuah sesak yang tertahan kini tumpah menjadi air mata yang tak terbendung. Ia tidak benar-benar masuk ke dalam pesawat. Tiket di tangannya ia remas hingga tak berbentuk. Pergi ke Singapura dalam keadaan hancur seperti ini hanya akan membuatnya mati rasa di negeri orang. Ia tidak butuh pelarian fisik; ia butuh waktu untuk menata hatinya yang berantakan.

Ia memutuskan untuk memesan taksi lain, bukan ke bandara, bukan ke rumah orang tuanya, melainkan ke sebuah apartemen kecil milik sahabat lamanya yang sedang berada di luar kota. Ia butuh tempat di mana Arhan dan bahkan Biru, tidak bisa menemukannya.

Dua hari berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Aqeela menghabiskan waktunya dengan menatap langit-langit apartemen, mengabaikan ratusan pesan dan panggilan dari Arhan. Ponselnya hanya ia gunakan untuk melihat jam, hingga sebuah notifikasi muncul di layar, bukan dari kontak telepon, melainkan sebuah pesan masuk di Instagram.

Sebuah akun dengan foto profil wanita cantik yang sangat ia kenali, Salsa_Adriana97.

Jantung Aqeela berdegup kencang. Tangannya gemetar saat membuka pesan itu.

Aqeela, aku tahu mungkin kamu masih sangat marah. Tapi tolong, temui aku sore ini di taman yang sama saat kamu melihatku bersama Arhan. Ada hal yang tidak sempat kamu dengar hari itu. Aku mohon.

Aqeela terdiam lama. Amarahnya memuncak, namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar. Ia ingin tahu sedalam apa lubang yang telah digali Salsa dalam rumah tangganya. Dengan keberanian yang tersisa, ia membalas singkat:

Jam 4 sore. Aku akan di sana

Angin sore berembus dingin saat Aqeela sampai di taman itu. Dari kejauhan, ia melihat sosok Salsa yang duduk di bangku kayu, mengenakan dress putih yang membuatnya tampak anggun namun rapuh. Tidak ada raut kemenangan di wajah wanita itu, hanya ada gurat kelelahan yang sama seperti yang dirasakan Aqeela.

Aqeela duduk di ujung bangku, memberikan jarak yang cukup lebar.

"Aku nggak punya banyak waktu," ujarnya dingin tanpa menoleh.

Salsa menoleh, menatap Aqeela dengan tatapan yang sulit diartikan.


Lihat selengkapnya