Riuh rendah suara pengumuman keberangkatan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta terasa seperti latar belakang musik yang menjemukan bagi Salsa. Ia duduk di kursi tunggu VIP, menatap paspor dan tiket menuju London di tangannya. Di luar jendela kaca yang besar, pesawat-pesawat raksasa bersiap lepas landas, sama seperti dirinya yang bersiap melepaskan seluruh sisa kenangannya di kota ini.
Salsa menyandarkan kepala, memejamkan mata, dan seketika memori itu berputar seperti rol film tua.

Tujuh tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk membangun sebuah pondasi perasaan. Ia mengingat bagaimana Arhan muda yang kaku selalu membawa payung setiap kali mendung, hanya karena tahu Salsa benci rambutnya lepek terkena hujan. Ia mengingat bagaimana Arhan rela menunggunya menyelesaikan tugas kuliah hingga larut malam tanpa mengeluh sedikit pun.
Namun, kejenuhan adalah racun yang tak terlihat. Di tahun ketujuh, dedikasi Arhan yang stabil justru terasa membosankan bagi Salsa. Ia menginginkan percikan api, sesuatu yang lebih dinamis. Dan saat itulah Rasya datang. Pria itu adalah antitesis dari Arhan; penuh kejutan, pandai bicara, dan tidak "sekaku" Arhan.
"Kesalahan terbodoh dalam hidupku," bisik Salsa pada dirinya sendiri.
Menerima lamaran Rasya saat itu adalah keputusan impulsif yang kini ia sesali setiap malam. Ia mengira telah menemukan petualangan baru, namun nyatanya ia hanya menemukan kekecewaan. Rasya tidak pernah memiliki ketulusan sedalam Arhan. Hanya setelah kehilangan Arhan, Salsa menyadari bahwa kekakuan pria itu adalah bentuk dari prinsip dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
"Salsa?"
Sebuah suara lembut memecah lamunannya. Salsa membuka mata dan sedikit terperanjat melihat siapa yang berdiri di depannya. Aqeela. Wanita itu tampak sedikit terengah-engah, seolah baru saja berlari jauh untuk sampai ke sini.
Salsa berdiri perlahan.
"Mba Qeela? Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?"