Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #25

Persahabatan yang Kuat #25

Suasana kantor divisi Arhan terasa berbeda sejak sang kepala tim mengambil cuti tahunan secara mendadak. Arhan, yang dikenal sebagai manusia paling disiplin dan gila kerja, tiba-tiba menghilang dari balik meja kerjanya yang biasanya selalu rapi. Desas-desus mulai berembus di antara rekan sejawat; mereka sedikit banyak memahami bahwa ada badai besar yang sedang menghantam rumah tangga yang baru seumur jagung itu.

​Tiga sahabat dekat Arhan di kantor Bagas, Dimas, dan Panji memutuskan untuk datang bertamu tanpa pemberitahuan. Mereka khawatir, karena pesan WhatsApp hanya dibaca tanpa dibalas, dan panggilan telepon selalu berakhir di kotak suara.

​Namun, saat mereka sampai di depan rumah Arhan, pemandangan di depan mata membuat mereka saling lempar pandang. Halaman rumah yang biasanya asri kini dipenuhi daun kering yang berserakan. Lampu teras masih menyala meski matahari sudah tinggi, tanda pemiliknya kehilangan kesadaran akan waktu.

​"Han? Arhan! Ini kami," seru Bagas sambil mengetuk pintu kayu yang sedikit terbuka.

​Tidak ada jawaban. Panji memberanikan diri mendorong pintu tersebut. Begitu melangkah masuk, aroma udara yang pengap langsung menyapa indra penciuman mereka. Ruang tengah yang biasanya terlihat elegan kini tampak seperti kapal pecah. Bantal sofa berserakan di lantai, kotak sereal kosong tergeletak di atas meja kaca, dan tumpukan kertas yang terlihat seperti robekan kontrak, masih terserak di bawah kaki meja.

​"Astaga, Han... kamu di mana?" Dimas bergumam ngeri melihat kekacauan itu.

​Dari arah dapur, muncul sosok pria dengan langkah gontai. Ketiganya hampir tidak mengenali pria itu sebagai Arhan. Rambutnya berminyak dan acak-acakan, dagunya dipenuhi jenggot tipis yang tidak terawat, dan kaos oblong yang ia kenakan tampak kusut dengan noda kopi di bagian dada. Arhan terlihat seolah belum menyentuh air mandi selama beberapa hari.

​"Kalian ngapain di sini?" tanya Arhan dengan suara parau dan mata yang tampak sayu, dikelilingi lingkaran hitam yang dalam.

​"Kita yang harusnya tanya, kamu ngapain begini?" Panji segera mendekat, menyingkirkan beberapa tumpukan majalah dari sofa agar mereka bisa duduk.

"Kita khawatir, Han. Kantor sepi kalau nggak ada singa galak kayak kamu."

​Arhan hanya menjatuhkan dirinya ke sofa tunggal, menyandarkan kepala sambil menatap kosong ke arah langit-langit.

"Aku cuma mau istirahat."

Lihat selengkapnya