Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #26

Aroma Nasi Goreng itu #26

Setelah hampir satu minggu mengurung diri dalam keputusasaan, Arhan akhirnya menginjakkan kaki kembali di kantor. Berkat serangan fajar dari para sahabatnya yang memaksa ia mandi dan merapikan rumah, Arhan mencoba kembali ke ritme hidupnya yang lama. Ia menyibukkan diri secara ekstrem. Ia menjadi orang pertama yang datang dan orang terakhir yang mematikan lampu ruangan.

Ia mengambil semua proyek tambahan, melakukan lembur hingga tengah malam selama beberapa hari berturut-turut. Baginya, kelelahan fisik adalah satu-satunya obat agar pikirannya tidak melayang ke Terminal 3 atau ke kursi taman tempat ia melihat Salsa terakhir kali. Namun, meski tubuhnya di kantor, hatinya tetap tertinggal di depan pintu rumah, menunggu suara kunci diputar.

Hingga saat ini, Aqeela belum pulang. Ponselnya aktif, namun tidak ada satu pun pesan Arhan yang dibalas. Arhan ingin sekali menelepon ibu mertuanya, namun nyalinya menciut. Ia terlalu malu dan takut jika ternyata Aqeela menceritakan segalanya, ia tidak sanggup membayangkan kekecewaan di wajah orang tua yang telah memercayakan putri mereka padanya.

Malam itu, Arhan pulang ke rumah dengan langkah yang sangat berat. Jam dinding menunjukkan pukul satu pagi. Ia masuk ke kamar utama, menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang terasa terlalu luas tanpa kehadiran Aqeela. Ia menatap langit-langit kamar yang gelap, terbayang kembali tawa tipis istrinya saat mereka berdebat kecil tentang warna sprei.

Tanpa bisa ditahan, setetes air mata jatuh di sudut matanya, menyusul tetesan-tetesan berikutnya yang membasahi bantal.

"Aku rindu, Qeel... pulanglah," bisiknya parau sebelum akhirnya rasa lelah membawanya ke dalam tidur yang gelisah.

Keesokan paginya, sinar matahari menyusup melalui celah gorden, namun bukan cahaya itu yang membangunkan Arhan. Hidungnya menangkap sebuah aroma yang sangat akrab. Bau bawang putih yang ditumis, aroma margarin, dan wangi nasi goreng yang gurih, aroma khas sarapan yang selalu disiapkan Aqeela setiap pagi sebelum ia berangkat kerja. Jantung Arhan berdegup kencang. Ia langsung terduduk tegak.

"Aqeela?" gumamnya, nyawanya seolah langsung terkumpul penuh.

Tanpa sempat membetulkan rambutnya yang acak-acakan, Arhan lari menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Harapannya membubung tinggi. Ia sudah membayangkan akan melihat Aqeela berdiri di depan kompor dengan celemek biru kesayangannya, menoleh padanya, dan berkata bahwa semuanya sudah baik-baik saja.

"Qeel! Kamu pu…"

Langkah Arhan terhenti di ambang pintu dapur. Sosok yang berdiri di sana memang seorang wanita yang sedang mengaduk nasi di atas wajan, namun itu bukan Aqeela.

"Arhan? Sudah bangun, Nak?"


21170118541-20260520235735.jpeg

Lihat selengkapnya