Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #27

Terimakasih, Aqeela #27

Minggu pagi itu terasa lebih ringan setelah kehadiran Ibu mertuanya. Arhan memutuskan untuk mengantar beliau pulang ke rumahnya, sekaligus memastikan bahwa hubungan mereka tetap terjaga baik meski badai tengah melanda. Sepanjang perjalanan, Arhan lebih banyak diam, meresapi setiap petuah bijak yang disampaikan sang Ibu tentang kesabaran dan kejujuran.

Setelah mengantar Ibu, Arhan tidak langsung pulang ke rumah. Ia tahu, berdiam diri di rumah yang kosong hanya akan membuatnya kembali terjebak dalam pusaran rasa bersalah. Ia memutar kemudi menuju tempat gym yang biasa ia datangi. Ia butuh kelelahan fisik yang nyata, sesuatu yang bisa memaksa otaknya berhenti berpikir sejenak.

Di sana, Arhan menghabiskan waktu berjam-jam. Ia memacu dirinya di atas treadmill, mengangkat beban hingga otot-ototnya terasa panas, dan mengakhiri sesi dengan berenang beberapa putaran. Ia ingin tubuhnya benar-benar lunglai, agar nanti malam ia bisa tidur lebih awal dan lebih nyenyak tanpa perlu ditemani bayang-bayang kegagalan yang menghantui setiap tidurnya belakangan ini.

Malam harinya, Arhan sampai di rumah tepat saat hujan gerimis mulai membasahi bumi. Tubuhnya terasa pegal, namun pikirannya jauh lebih rileks. Setelah mandi air hangat, ia langsung menjatuhkan diri di atas ranjang. Rasa kantuk yang luar biasa segera menyerang pertahanannya.

Dalam tidur yang begitu lelap, Arhan merasa seperti sedang melayang. Di tengah kegelapan mimpinya, ia merasakan sebuah pergerakan lembut di sampingnya. Ranjang yang tadinya dingin perlahan terasa hangat.

545039140665-20260521001432.jpeg

Samar-samar, Arhan merasakan sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Sebuah sentuhan yang sangat ringan, seolah takut membangunkannya. Pelukan itu terasa begitu nyata, begitu hangat, dan membawa aroma yang sangat ia rindukan, campuran lembut antara sabun bayi dan wangi sandalwood.

Ini pasti mimpi, batin Arhan dalam ketidaksadarannya. Mimpi yang indah, tolong jangan berakhir dulu.

Ia tidak membuka mata. Rasa lelah yang teramat sangat membuatnya tetap terpejam, menikmati sensasi hangat yang menjalar di punggungnya. Ia hanya bergerak sedikit, menyesuaikan posisi tubuhnya agar pelukan itu terasa lebih erat, lalu kembali tenggelam dalam tidur yang paling dalam yang pernah ia rasakan sejak Aqeela pergi.

Lihat selengkapnya