Selama beberapa menit, Arhan mencoba menuruti permintaan Aqeela. Ia membiarkan keheningan menyelimuti kamar mereka, menikmati beban tubuh istrinya yang menyandar hangat di dadanya. Namun, ketenangan itu ternyata hanyalah ketenangan sebelum badai. Semakin ia diam, semakin banyak memori tentang kehancurannya selama seminggu terakhir yang menyeruak naik ke permukaan.
Bayangan rumah yang berantakan, rasa mual karena rindu, air mata yang jatuh di tengah malam, hingga rasa malu saat teman-temannya melihatnya seperti gelandangan, semuanya menuntut penjelasan.
Secara mendadak, Arhan melepaskan pelukannya dan duduk tegak di tempat tidur. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Aqeela terperanjat dan ikut terduduk, menatap Arhan dengan mata yang masih setengah mengantuk namun penuh tanya.
Arhan menatap Aqeela dengan sorot mata tajam, napasnya memburu.
"Enggak, Qeel. Aku nggak bisa diam saja," suara Arhan berat, bergetar oleh emosi yang tertahan.
"Mas..."
"Kamu tahu seberapa hancurnya aku?" Arhan memotong, suaranya naik satu oktav.
"Aku ke bandara seperti orang gila. Aku mencari kamu ke tiap sudut sampai ditegur petugas. Aku pulang ke rumah ini dan setiap sudutnya cuma mengingatkan aku kalau aku sudah gagal jadi suami. Aku nggak mandi, aku nggak makan, aku bahkan nggak berani bicara sama Ibu karena aku merasa jadi pria paling brengsek di dunia!"
Aqeela tertegun, melihat Arhan yang biasanya kaku dan terkontrol kini meledak di depannya.
"Kamu ke mana, Qeela? Ke Singapura? Atau ke tempat persembunyian yang nggak bisa aku jangkau?" tanya Arhan, menuntut jawaban.
Aqeela menghela napas panjang, ia menunduk sambil memainkan ujung selimut.
"Aku nggak ke Singapura, Mas. Aku membatalkan penerbangannya. Aku cuma butuh waktu untuk berpikir, untuk memastikan kalau aku kembali karena aku mau, bukan karena rasa marah yang belum hilang..."