Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #29

Rekonsiliasi Kontrak #29

Sinar matahari pagi kini sudah sepenuhnya memenuhi kamar, menciptakan garis-garis cahaya keemasan di atas sprei yang berantakan. Suasana tegang yang sempat meledak beberapa saat lalu kini mencair, berganti dengan kehangatan yang canggung namun manis. Aqeela masih berada dalam kungkungan pelukan Arhan, merasakan detak jantung suaminya yang berdegup kencang namun stabil di balik kaos oblongnya yang kusut. Jemari Aqeela perlahan mengusap rahang Arhan yang kini terasa kasar karena tidak dicukur selama berhari-hari, sebuah tanda nyata dari kekacauan yang pria itu alami.

Arhan terdiam, memejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam aroma rambut istrinya yang sangat ia rindukan. Ia seolah ingin menyimpan aroma itu di dalam paru-parunya, memastikan bahwa sosok di pelukannya ini nyata, bukan sekadar halusinasi akibat kelelahan batin.

"Mas," panggil Aqeela pelan, suaranya nyaris berbisik di antara bantal.

"Hmm?" Arhan menyahut pendek, masih enggan menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Aqeela.

"Tentang berkas itu... Kontrak pernikahan yang aku dan kamu sudah sobek itu," Aqeela menjeda, menatap Arhan dengan tatapan ragu.

 "Aku tahu bagi kamu legalitas, aturan, dan struktur itu sangat penting. Apakah kita perlu mencetaknya ulang? Atau mungkin kita perlu duduk bersama untuk memperbarui poin-poinnya? Aku tidak keberatan kalau kita harus ke notaris lagi untuk memastikan semuanya sah secara hitam di atas putih."

Belum sempat Aqeela menyelesaikan kalimatnya, Arhan berdecak kesal. Ia melepaskan pelukannya dengan gerakan tiba-tiba dan duduk tegak di tempat tidur. Ia menatap Aqeela dengan dahi berkerut dalam, seolah istrinya baru saja mengusulkan sesuatu yang sangat konyol atau bahkan menghina.

"Cetak ulang? Notaris?" ulang Arhan dengan nada tidak percaya, suaranya sedikit meninggi.


Arhan duduk tegak, ekspresinya berubah serius. Ia meraih kedua tangan Aqeela, menggenggamnya erat-erat di atas pangkuannya, seolah takut jika ia melepas genggaman itu, Aqeela akan teringat kembali pada batasan-batasan dingin yang pernah ia ciptakan.

"Nggak akan ada lagi kontrak, S.O.P, atau aturan-aturan kaku di rumah tangga kita, Qeela. Aku sudah cukup belajar dalam seminggu ini. Menjalankan hubungan dengan logika mesin itu hanya akan berakhir rusak saat perasaan manusia mulai menuntut haknya. Aku pria yang kaku, aku akui itu. Aku terbiasa mengatur segala hal agar bisa aku kendalikan, tapi aku sadar... aku tidak bisa mengendalikan rasa takutku kehilangan kamu hanya dengan sebuah dokumen, lagipula kamu yang meminta di buatkan kontrak sejak awal perkenalan kita…"

Aqeela tersenyum tipis, merasa lega sekaligus ingin sedikit menggoda pria di depannya. Ia ingin melihat sejauh mana "Mr. SOP" ini benar-benar telah meluruhkan egonya.

"Tapi bukannya kamu sangat mencintai ketertiban, Mas? Gimana kalau nanti kita berdebat lagi soal siapa yang harus cuci piring? Atau soal privasi masing-masing yang tertulis di pasal satu? Bukankah kamu dulu bilang kalau ruang pribadi adalah harga mati?"

Arhan mendesah berat, sebuah tawa hambar keluar dari bibirnya.

"Pasal satu itu adalah kebodohan terbesarku. Ruang pribadi? Privasi? Untuk apa aku punya privasi kalau di dalamnya aku hanya merasa kesepian dan hancur? Untuk apa aku punya ruang sendiri kalau di sana aku cuma bisa menatap foto pernikahan kita sambil menangis?"

Arhan mendekatkan wajahnya, menatap langsung ke dalam mata Aqeela dengan intensitas yang membuat jantung wanita itu berdesir hebat. Tatapannya kini tidak lagi dingin dan menuntut, melainkan penuh dengan permohonan yang jujur.

Lihat selengkapnya