Marriage without Dating

Susilawati Nussy
Chapter #30

Pondasi yang Baru #30

Keputusan itu diambil bukan karena rumah lama mereka tidak nyaman, melainkan karena setiap sudutnya menyimpan gema dari masa lalu yang tidak ingin dibawa Arhan ke masa depan. Bagi Arhan, rumah minimalis di gerbang perumahan itu adalah monumen dari kegagalannya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Ia ingat betul bagaimana Salsa dulu yang memilihkan warna cat abu-abu dingin itu, Salsa yang menentukan letak jendela, dan Salsa yang mengatur konsep open space yang ternyata justru terasa begitu hampa saat Aqeela pergi.

"Kita pindah, Qeel," ujar Arhan suatu sore, seminggu setelah rekonsiliasi mereka.

Aqeela yang sedang merapikan rak buku menoleh terkejut.

"Pindah? Tapi rumah ini kan sangat dekat dengan kantor kamu, Mas. Lagipula, kita baru saja mulai merasa... di rumah."

Arhan menghampiri istrinya, mengambil buku dari tangan Aqeela dan meletakkannya di meja. Ia menggenggam jemari Aqeela dengan tatapan yang sangat bersungguh-sungguh.

"Aku ingin kita punya tempat yang benar-benar kita. Bukan tempat yang dibayang-bayangi selera orang lain. Aku merasa bersalah setiap kali melihatmu harus beradaptasi dengan barang-barang yang bagaimanapun juga, pernah menjadi pilihan Salsa. Kamu pantas mendapatkan rumah yang fondasinya dibangun dari keinginanmu sendiri."

Aqeela tertegun. Ia tidak menyangka Arhan akan berpikir sejauh itu. Selama ini ia memang merasa seperti penumpang di rumah itu, berusaha mencocokkan dirinya dengan estetika yang bukan miliknya. Namun, mendengar pengakuan Arhan, hatinya terasa menghangat. Arhan bukan hanya ingin bersamanya; ia ingin memberinya ruang di mana Aqeela bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu berkompromi dengan hantu masa lalu.

"Biarlah kamu yang menyusun barang-barangnya nanti. Kamu yang pilih warnanya, kamu yang pilih gordennya, kamu yang tentukan di mana pojok menulis paling nyaman untukmu," tambah Arhan sambil mengecup kening istrinya.

***

Proses pindahan berlangsung cepat namun penuh tawa. Arhan benar-benar menepati janjinya. Ia membeli sebuah rumah di area yang lebih asri, sedikit menjauh dari kebisingan kota, dengan halaman belakang yang cukup luas untuk ditanami bunga-bunga kesukaan Aqeela.

Beberapa minggu pertama di rumah baru, Arhan berubah menjadi asisten pribadi yang sangat patuh. Jika dulu ia yang mendikte segalanya, kini ia hanya diam mengikuti instruksi Aqeela.

"Mas, lemari ini geser sedikit ke kiri, ya? Biar cahaya matahari sore bisa masuk ke sela-sela rak," pinta Aqeela sambil menunjuk sudut ruang tamu.

Arhan, dengan peluh membasahi kaosnya, mendorong lemari kayu berat itu tanpa protes sedikit pun.

"Ke sini? Atau lebih ke kiri lagi, Komandan?" godanya sambil menyeka keringat dengan lengan baju.

Aqeela tertawa, pemandangan Arhan yang berantakan karena debu dan keringat jauh lebih tampan di matanya daripada Arhan yang mengenakan jas formal di kantor. Di rumah ini, Aqeela bebas berekspresi. Ia memilih warna cat krem yang hangat, meletakkan banyak tanaman dalam ruangan, dan mengisi sudut-sudut rumah dengan aromaterapi yang menenangkan. Rumah itu perlahan mulai bernafas, memiliki nyawa yang jauh berbeda dari rumah mereka yang lama.

Setelah semua barang tertata rapi, mereka memutuskan untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan. Ini bukan sekadar perayaan rumah baru, tapi juga pernyataan kepada dunia bahwa kontrak mereka telah berakhir dan pernikahan yang sesungguhnya telah dimulai.

Lihat selengkapnya