Marry Me Not

Ropha Locera
Chapter #2

Percakapan yang Serius

Pusat perbelanjaan terbesar kedua di kota Surabaya, di kala sore itu tampak lebih ramai dari hari biasanya. Mungkin karena sudah memasuki minggu gajian?

Para muda-mudi dengan outfit modis duduk berkelompok, membahas hidup mereka yang masih terasa ringan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan tangan, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Musik dari toko pakaian bercampur dengan aroma kopi dan parfum mahal, menciptakan hiruk pikuk khas kota besar.

Laras berdiri di depan toko buku, menatap pantulan dirinya di kaca etalase. Blus putihnya sedikit kusut sedikit di bagian lengan, jeans-nya bukan model terbaru, dan sepatu flat hitam itu tampak lecet di sisi kanan. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga.

“Kamu datang ke sini bukan buat naksir dia,” bisiknya pada diri sendiri. “Kamu datang buat dengar ... seberapa gilanya orang ini. Dan demi uang untuk bertahan hidup.”

Pandangan Laras beralih ke sebuah kafe kecil di sudut area, setengah tersembunyi dari lalu lalang utama pengunjung. Tempat itu terlihat cukup tenang— sofa abu-abu, lampu gantung dengan bola-bola kaca kecil, serta tanaman hias di tiap sudut ruangan. Beberapa orang duduk dengan laptop, sisanya tampak asyik berbincang.

“Dia belum datang juga?” gumamnya kesal sambil melirik pesan terakhir dari Raka.

“Saya akan tiba disana, jam 18.45.”

Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 18.50.

Laras memutuskan untuk masuk ke dalam kafe itu. Hanya dua kursi di bagian tengah ruangan. Dia meletakkan jaket di salah satunya, lalu berjalan ke kasir untuk memesan minuman.

Sambil menunggu, dia membuka ponsel dan iseng mengetik nama ‘Raka Gunawan Surabaya’. 

Dalam hitungan detik, layar menampilkan berbagai artikel bisnis.

'Raka Gunawan, Direktur Operasional PT GG Propertindo’. ‘Ekspansi Properti Surabaya Barat Dipimpin Anak Muda Cerdas’. ‘CEO Muda, Belum Menikah, Tegas dan Pendiam.’

Laras membaca perlahan.

Bukan penipu. Bukan orang gila. Terkenal, Kaya, dan berpengaruh. Lalu kenapa pria seperti itu meneleponnya dan menawarkan ide pernikahan kontrak?

Dia membuka akun media sosial Raka. Kosong. Tidak ada foto pribadi, tidak ada unggahan santai. Bahkan profil profesionalnya terasa kaku, penuh dengan istilah bisnis yang dingin.

Saat dia hendak mencari foto lebih lanjut, sebuah suara terdengar dari arah belakang.

“Nona Laras Aulia?”

“Iya,” jawab Laras sambil menoleh.

Seorang pria berdiri di belakangnya. Raka Gunawan.

Laras terdiam beberapa detik. Matanya terbuka lebih lebar saat menatap pria di hadapannya. Setelan jasnya terlihat fancy dan pas di tubuhnya. Rambut hitam tertata rapi, dan aroma parfumnya samar namun elegan.

“Wow!” gumam Laras tanpa sadar, lalu menoleh ke kanan dan kiri, memastikan hanya dialah pria yang sedang mengajak dirinya berbicara. 

"Dia menawan,” pikirnya.

"Apakah benar anda Nona Laras Aulia?” tanya Raka memastikan.

Laras menganggukkan cepat. "Iya … silahkan duduk.”

Dia baru tersadar bahwa sejak Raka duduk di hadapannya, matanya hampir tidak berkedip. Ekspektasinya runtuh begitu saja. Dia mengira pria itu biasa saja yang biasa saja— nyatanya jauh dari kata itu.

“Tahu begini, tadi aku dandan sedikit,” batinnya sambil merapikan lengan baju. “Atau mungkin, mengganti baju.”

Pikirannya sibuk memarahi dirinya sendiri. Tapi Raka sibuk memperhatikan ke sekelilingnya. “Saya tidak menyangka ada kafe di sini,” ucap Raka yang sedang memeriksa kebersihan meja dengan kedua jari.

“Ya.”

Pelayan datang membawakan minuman Laras, dan menanyakan minuman Raka.

Espresso double,” jawab Raka singkat.

Setelah pelayan pergi, Laras membuka percakapan. “Saya kira anda tidak akan datang."

“Maaf, saya terlambat 5 menit. Ada rapat mendadak.”

Raka mengeluarkan map tipis dari tas kulit hitamnya dan meletakkannya di atas meja, membukanya seperti hendak memulai presentasi.

“Apa ini?” tanya Laras.

“Draf awal. Kita bisa negosiasi setelah anda membaca.” 

Laras mengangkat alis. “Kita bahkan belum saling mengenal?”

“Saya tidak suka membuang waktu.”

Dia bersandar, menatap Raka lebih dalam. Dari dekat, wajah pria itu tidak sejahat yang dia duga. Mata coklat gelapnya yang tajam, terlihat menyimpan sesuatu. Bibirnya nyaris tidak pernah tersenyum. Dia tampak seperti orang yang tidak tahu caranya bersantai.

“Apakah gaya berbicara anda seperti ini?”

“Apa maksud anda?”

“Seperti robot.” 

Kembali pelayan mendatangi meja mereka, membawakan minuman Raka. Dia meneguk espresso sebelum menjawab, “Saya hanya peduli apakah anda setuju atau tidak?”

Laras menarik map ke arahnya, membuka lembar pertama. Membaca isi kertas itu, yang berisi kontrak. 

‘Perjanjian Sementara Kerja Sama Hubungan Personal Non Legal untuk Kepentingan Representatif Keluarga.’

Laras langsung mendecak.

“Judulnya saja sudah kayak seminar pajak,” lirihnya sambil melihat ke arah Raka yang sedang membalas pesan kerja yang sempat tertunda.

Dia membaca pelan.

Ada klausul tentang durasi. ‘3 bulan, bertemu dengan keluarga. 6 bulan, menikah.’

Hak dan kewajiban. ‘Biaya hidup ditanggung penuh oleh pihak pertama. Pihak kedua tidak boleh bekerja selama masa kontrak, tapi akan mendapatkan uang bulanan sebagai gaji, sebesar lima juta rupiah. Pihak kedua mendapat tunjangan pakaian. Pihak kedua mendapat jatah dua hari libur per bulan untuk ke rumah ibunya, setelah menikah.’

Setelah kontrak selesai. ‘Pihak kedua akan diberikan sebesar lima miliar rupiah.’

“Seperti yang anda tulis di bagian akhir kertas itu, ada imbalan uang sebesar lima miliar …”

“Iya, benar. Apa kurang?”

Laras menarik nafas, dadanya terasa berat. “Ini ... sangat cukup buatku untuk hidup ratusan tahun,” seru otaknya.

“Tidak, itu sudah lebih dari cukup."

Raka mengangguk, tanpa lepas menatapi Laras.

“Baik, saya setuju.” Tangannya langsung dijulurkan ke depan Raka.

Raka menatapnya sejenak, lalu menyambutnya tanpa senyum. “Oke.”

“Kapan kita mulai?” Tanya Laras, lalu meminum minumannya.

“Hari ini.”

Laras tersedak, “Hari ini?! Kenapa tidak mulai besok lusa saja?”

“Kesepakatan sudah disetujui, mau menunggu apa lagi?”

Dia menghela napas. “Yah, anda benar.”

“Saya akan menyusun kembali kontrak ini, sebelum kita menandatanganinya bersama besok.”

“Oke.”

Laras menyandar tubuhnya ke kursi, sambil menatap Raka yang sedang memasukkan map ke dalam tas. 

Matanya menyipit sedikit, “apa anda tahu?” Raka menatapnya balik. “Dari semua ini … yang paling aneh adalah anda merasa ini masuk akal.”

“Ini bukan soal masuk akal apa tidak? Ini solusi.”

“Kalau anda butuh solusi, anda bisa membayar orang dari hire agency. Atau pura-pura pacaran sama cewek influencer. Mereka lebih siap untuk ‘peran’ seperti ini.”

“Saya tidak percaya dengan dunia palsu yang dirancang di depan kamera.”

Laras menatapnya lama. “Lalu kenapa anda percaya akan … hubungan yang anda rancang sendiri.”

Raka terhenyak sesaat. Pertanyaan itu seperti anak panah kecil yang mengenai titik tak terduga di dadanya.

Lihat selengkapnya