Raka kembali ke rumahnya. Pencahayaan yang redup tidak mempengaruhi langkah kakinya menuju lemari pendingin di sudut dapur. Dia memasukkan makanan yang dimasak oleh Tara, memandang sejenak, lalu mengambil botol air mineral. Meneguknya hingga tersisa setengah bagian, sambil menutup pintu kulkas di belakangnya.
Kemudian menarik kursi, terduduk, memikirkan akan hari esok. Karena hari itu adalah hari yang paling dibencinya. Ingin rasanya dilupakan olehnya, tapi entah mengapa itu tidak bisa. Helaan napas terasa berat di dada, Raka kembali meneguk air hingga habis, dan meremas botol itu hingga tidak berbentuk.
Tidak lama ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dari tatanan katanya, dia tahu siapa yang mengiriminya pesan.
“Besok, jam 7 malam, di kafe Delima.” Dia menaruh kembali ponselnya ke saku celananya, melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Dia benci dengan kenyataan yang dialaminya saat ini. Ingin secepatnya dia menghilang dalam lelapnya tidur, tapi tidak di malam itu, hingga tidur malamnya dihantui mimpi buruk.
***
Cahaya mentari kali ini lebih menyengat di pagi itu, dia bangun dengan perasaan yang bahagia, sebelum namanya dipanggil untuk kedua kalinya.
“Laras! Cepat bangun! Kamu bisa terlambat berangkat ke kantor.” Lena masuk ke kamar Laras tanpa mengetuk.
“Aku berangkat ke kantor bukan untuk bekerja, Bu. Apa ibu sudah lupa?” Laras bangun sambil merenggangkan tubuhnya, lalu beranjak ke keluar kamar.
“Ah, iya! Ibu lupa.” Lena mengikutinya keluar dan kembali ke aktivitasnya untuk berjualan. “Makan dulu sebelum berangkat, ya?”
“Iya, bu.”
Laras masuk ke kamar mandi. Memandangi pantulan dirinya, memandangi kebohongan yang tersirat di kedua matanya. Dia tahu kebohongannya kali ini akan susah dimaafkan.
Setelah bersiap dan berangkat ke tempat kerjanya. Kedatangan Laras disambut oleh Siska. Dia datang menghampiri Laras yang telah terlambat 30 menit. Hentakan kaki kanan yang berulang kali, dan tangan yang terlipat di dada, dan kunyahan permen karet. Sudah jelas, kali ini sudah tidak ada dispensasi.
“Selamat pagi, nona Laras. Hari ini, satu langkah menuju kegagalan, ya? Polis asuransi tidak satu pun berhasil terjual, sekarang malah terlambat. Apa tidak malu dengan rekan kerjamu? Atau ... memang kamu tidak mau bekerja lagi?”
“Bukan tidak mau bekerja. Tepatnya saya mengundurkan diri.”
Matanya dua kali lebih besar terbuka dibanding sebelumnya. “Apa katamu barusan?”
“Memang baru 2 Minggu, saya bekerja di sini. Tapi tekanan dan pengalaman yang anda berikan sungguh … menjengkelkan! Anda sama sekali tidak mengerti. Hidup ini sudah penuh tekanan, kalau anda memberi tekanan lagi, target yang ingin dicapai, ya pasti tidak bisa berhasil secara maksimal.”
“Kamu kira mencari uang itu mudah?!”
“Karena saya tahu itu sangat susah, saya berhenti. Buat apa mendapat gaji, dari cara yang kalian lakukan. Memberi pengharapan palsu, yang kalian sendiri tahu itu tidak bisa terpenuhi.”
Siska mendengus keras, wajahnya memerah.
"Jadi menurutmu, kami semua di sini kerja tanpa hasil? Kamu kira kami makan dari gaji buta, huh?"
Laras balas menatap tajam ke arahnya. "Benar. Maka dari itu, ini surat pengunduran diri dari saya."
Laras meletakkan surat pengunduran diri ke tangan Siska, dia ternganga, syok mendengar ucapan Laras.
Ruangan mendadak hening, beberapa karyawan saling pandang tanpa berbicara.
“Oh, ya!” Laras berbalik sebelum meninggalkan tempat itu. “Pesan buat kalian semua. Berhenti menggunakan keluarga kalian, demi memenuhi target mereka. Selain itu, jangan cepat tergiur dengan setiap janji mereka yang palsu. Ingat, para atasan kalian hanya butuh uang.”
“Jaga mulutmu?!”
“Mulut anda yang seharusnya dijaga. Anda tidak tahu setiap kesusahan rekan kerja saya di sini, anda hanya memaksa mereka demi uang. Hati-hati Bu, semua itu ada konsekuensinya.” Laras melihat ke arah mereka semua sebelum akhirnya beranjak pergi.
Semua mata mengiringi kepergiannya, dan mereka saling menatap satu sama lain. Seakan saling memberitahu bila apa yang dilakukan oleh mereka selama ini, ternyata diketahui Laras.
“Kembali bekerja!” Siska menatap marah ke arah mereka masing-masing.
Laras keluar dengan menghela napas lega, kebahagiaanya mengalahi cahaya mentari di pagi hari. Kakinya melangkah mantap menuju perusahaan yang dijalankan oleh Raka.
Sesampainya di sana, dia berdecak kagum akan keindahan interior gedung perusahaan itu. Lalu merasa tidak nyaman dengan cara berpakaian para karyawan yang sedang berlalu lalang di daerah lobi, terlihat sangat berbeda dari perusahaan lain yang Laras pernah tahu, begitu fancy dan modern.
Belum juga selesai memperhatikan tiap karyawan perusahaan itu, ada seseorang yang menyapanya dari arah belakang. Suara berat dan tegas.
“Nona Laras?” Laras berbalik ke arah pemilik suara itu. “Saya tidak menyangka, bisa bertemu dengan anda di sini?”
“Pak Tri?” Seorang bapak yang dulu pernah menjadi tetangga sebelah rumah. “Apa anda bekerja di sini?”
“Benar, saya bekerja di sini, sebagai satpam. Bagaimana kabar Ibu Lena?”
“Kabar baik, pak. Bagaimana kabar Ibu Yeni dan Bapak?”
“Tentu, semuanya baik-baik. Lalu nona Laras ada kepentingan apa ke perusahaan ini?”
“Saya ingin melamar bekerja di sini.”
“Oh, ya? Sebagai apa?”