Marrying My Anxiety

Pitri Yanti
Chapter #1

Anxiety

Bagi sebagian besar orang, rumah adalah sebuah tempat bernaung, sebuah pelabuhan aman di mana mereka bisa melepaskan seluruh penat dan tertidur dengan damai. Namun bagi Aisha, rumah sering kali berubah menjadi sebuah kotak interogasi yang sempit, dan musuh terbesarnya adalah keheningan malam.

Secara medis, dokter spesialis kedokteran jiwa yang pernah dikunjunginya dulu menyebut kondisi ini dengan istilah Generalized Anxiety Disorder—gangguan kecemasan menyeluruh—lengkap dengan serangan panik yang bisa datang tanpa mengetuk pintu. Namun bagi Aisha pribadi, penyakit itu tidak butuh nama ilmiah yang rumit. Baginya, anxiety adalah sesosok monster tak kasat mata yang tinggal di dalam kepalanya, yang selalu berbisik tentang skenario terburuk dari setiap kejadian normal di hidupnya.

Otak Aisha bekerja dengan cara yang melelahkan. Jika orang normal melihat sebuah situasi dan memikirkan kemungkinan A, B, atau C, maka otak Aisha akan langsung melompat ke kemungkinan Z—kemungkinan yang paling berdarah, paling tragis, dan paling mematikan. Sialnya, tubuh Aisha tidak bisa membedakan mana ancaman yang nyata dan mana yang hanya berupa ilusi pikiran. Ketika otaknya membayangkan sebuah bencana, seluruh tubuhnya akan merespons seolah bencana itu sedang benar-benar terjadi di depan matanya.

Kondisi psikologis ini kian hari kian memburuk justru karena satu hal yang ironis: Aisha terlalu mencintai keluarganya.

Di dalam struktur jiwanya yang rapuh, rasa cinta yang mendalam telah berkelindan dengan rasa takut kehilangan yang abnormal. Baginya, mencintai Rendra dan anak-anak mereka berarti bersiap untuk menghadapi kehancuran mental setiap detiknya. Rasa memiliki yang teramat besar itu melahirkan kecemasan yang protektif namun beracun. Pikiran bawah sadarnya selalu menolak untuk rileks, karena ia merasa jika ia lengah sedikit saja untuk tidak khawatir, maka semesta akan langsung merebut kebahagiaannya. Ia selalu merasa harus tetap bersiaga, mengawasi setiap detak napas orang-orang yang ia cintai, seolah-olah energinya yang terkuras oleh kecemasan bisa menjadi tameng pelindung bagi mereka.

Lihat selengkapnya