Marrying My Anxiety

Pitri Yanti
Chapter #2

Jam - jam yang mencekik

Di ruang tamu yang hanya diterangi oleh temaram lampu sudut kekuningan, Aisha duduk meringkuk di atas sofa kain. Kedua lututnya ditarik rapat ke dada, didekap erat oleh kedua lengannya yang kurus. Matanya tidak berkedip, menatap lurus ke arah jam dinding kayu yang tergantung di atas televisi.

Tik. Tik. Tik.

Setiap detakan jarum jam itu terasa bergaung keras, memantul di dinding-dinding rumah yang sepi, dan menghantam gendang telinganya laksana ketukan palu hakim. Waktu telah melewati pukul sebelas malam. Bagi sebagian besar istri, keterlambatan suami beberapa jam mungkin hanya akan memicu rasa kesal atau kantuk yang tertahan. Namun bagi Aisha, setiap menit yang melesat adalah hitung mundur menuju sebuah bencana.

Tangan Aisha gemetar. Ia bisa merasakan permukaan telapak tangannya dingin, dilapisi keringat tipis yang tidak nyaman. Dengan gerakan yang kaku dan panik, ia menyambar ponsel yang tergeletak di samping paha kanannya. Ibu jarinya menekan tombol daya, membuat layar digital itu menyala terang, menyorot wajahnya yang pucat dan menyisakan bayangan gelap di bawah matanya yang sembap.

Kosong. Tidak ada satu pun notifikasi yang ia harapkan.

Aisha membuka aplikasi pesan singkat. Ruang obrolannya dengan Rendra dipenuhi oleh barisan centang abu-abu tunggal.

“Mas, sudah di jalan?” – Dikirim pukul 19.30.

“Mas Rendra, jalanan macet ya?” – Dikirim pukul 20.15.

“Mas, tolong balas kalau sudah baca.” – Dikirim pukul 21.00.

“Rendra, kamu di mana? Tolong jangan buat aku takut.” – Dikirim pukul 21.45.

“Ponselmu kenapa tidak aktif? Rendra!!!” – Dikirim pukul 22.30.

Semuanya tenggelam dalam kesunyian. Aisha kemudian beralih ke log panggilan. Jari-jarinya yang gemetar kembali menekan tombol panggil. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya, menahan napas, berharap cemas akan mendengar nada sambung yang familier.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

Suara operator wanita yang datar dan mekanis itu terdengar seperti vonis mati. Aisha memutuskan panggilan dengan sentakan kasar, lalu melempar ponselnya ke atas sofa. Ia menjambak rambutnya sendiri, membenamkan wajah di antara kedua lutut.

Kenapa nomornya mati? Kenapa? Otak Aisha mulai bekerja di luar kendali. Sel-sel di kepalanya seperti mesin otomatis yang dirancang khusus untuk memproduksi skenario terburuk.

Bagaimana kalau terjadi sesuatu di jalan? Jalan tol malam hari sangat rawan. Bagaimana kalau mobil Rendra diseruduk dari belakang oleh truk kontainer yang remnya blong? Bagaimana kalau saat ini mobil suaminya ringsek, terbalik di parit jalan tol yang gelap, dan Rendra terjebak di dalam sana, bersimbah darah, meminta tolong tanpa ada satu orang pun yang mendengar?

Lihat selengkapnya