Ketakutan Aisha tidak pernah memiliki batas akhir. Ketika ia berhasil melewati satu hari tanpa kepanikan yang berarti, monster di dalam kepalanya tidak benar-benar tidur. Monster itu hanya sedang bersembunyi di balik lipatan ketidaksadarannya, mengumpulkan tenaga untuk bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Bagi Aisha, melahirkan anak pertama mereka, Rafa, adalah sebuah kebahagiaan luar biasa yang sekaligus menjadi awal dari kutukan baru. Rasa cinta yang tumpah ruah untuk makhluk kecil tak berdosa itu seketika mengubah insting keibuannya menjadi paranoid yang akut. Otak Aisha berhenti berfungsi sebagai pelindung yang rasional, berganti menjadi sebuah mesin yang memproduksi prediksi kematian setiap detiknya.
Jika Rafa bersin sekali saja di pagi hari, otak Aisha tidak akan menganggapnya sebagai flu atau alergi debu biasa. Sel-sel di kepalanya akan langsung menyusun diagnosis paling mematikan yang ia cari di internet: pneumonia akut, gagal napas, atau infeksi paru-paru yang tidak bisa disembuhkan. Jika Rafa tidur terlalu lelap di siang hari, Aisha tidak akan memanfaatkan waktu itu untuk memejamkan mata atau merapikan rumah. Ia akan berlutut di samping boks bayi berjam-jam. Dengan tubuh gemetar dan napas tertahan, ia menempelkan ujung jari telunjuknya di bawah lubang hidung mungil Rafa, memastikan hembusan napas itu masih ada. Detak jantung Aisha baru akan melambat setelah melihat dada bayinya naik dan turun dengan teratur. Begitu terus, setiap hari, hingga seluruh energinya terkuras habis bahkan sebelum matahari terbenam.
Rendra berkali-kai mencoba menyadarkannya. Di bulan-bulan awal, pria itu akan duduk di samping Aisha, mengelus punggungnya yang tegang, dan berbisik dengan sisa-sisa kesabaran yang ia miliki. "Aisha, lihat aku. Rafa sehat. Dokter anak sudah bilang dia bayi yang sangat kuat. Tolong, kamu harus istirahat. Jangan siksa dirimu sendiri dengan pikiran-pikiran itu."
Namun, benteng pertahanan di kepala Aisha terlalu tebal untuk ditembus oleh kata-kata penenang. Bagi Aisha, rileks semenit saja berarti ia lalai, dan kelalaian itu akan membuka pintu bagi maut untuk merebut anaknya. Ia selalu merasa bahwa energinya yang terkuras oleh kecemasan adalah "tumbal" yang harus ia bayar agar semesta tetap menjaga keluarganya tetap utuh. Sebuah logika yang rusak, namun terasa sangat nyata bagi jiwanya yang sakit.
Puncaknya terjadi pada suatu malam di musim penghujan, saat Rafa baru menginjak usia dua tahun.
Udara malam itu terasa sangat menusuk tulang, ditemani suara rintik hujan yang konstan menghantam atap seng. Sejak sore, suhu tubuh Rafa mendadak melonjak naik. Aisha sudah memberikan obat penurun panas dosis pertama, namun jarum pada termometer digital justru terus merangkak naik tanpa ampun, melewati angka 39, hingga akhirnya menyentuh angka 40,2 derajat Celsius. Kulit bayi Rafa yang biasanya kemerahan dan segar, kini berubah menjadi pucat, kering, dan terasa panas laksana bara api saat disentuh.
Aisha berdiri mematung di samping ranjang bayi. Ia meremas-remas kedua telapak tangannya sendiri dengan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya hampir melukai kulitnya sendiri. Kepalanya mulai berisik. Dengungan aneh yang pekat perlahan memenuhi telinganya, mengubur suara rintik hujan di luar ruangan.
Tepat ketika rentetan visual mengerikan itu melintas di kepalanya, tubuh kecil Rafa di atas kasur mendadak tersentak. Kedua kaki dan tangan mungilnya menegang, kelojotan, dan gemetar secara hebat di luar kendali. Mulutnya terkatup rapat, mengeluarkan sedikit busa di sudut bibirnya. Dan yang paling membuat jantung Aisha berhenti berdetak: kedua mata bulat anaknya berbalik ke atas, hanya menyisakan bagian putihnya yang menatap kosong. Rafa mengalami kejang demam atau step.
Detik itu juga, seluruh sirkuit logika dan rasionalitas di otak Aisha putus total. Badai kepanikan menghantam dadanya seperti tsunami yang meruntuhkan seluruh sisa kewarasannya. Bukannya mengambil kain kompres hangat, menelepon ambulans, atau memiringkan tubuh sang anak agar tidak tersedak air liurnya sendiri—semua instruksi medis yang pernah ia hapal di luar kepala—Aisha justru melepaskan sebuah jeritan histeris. Suaranya melengking tinggi, membelah kesunyian malam, dipenuhi oleh rasa putus asa yang teramat sangat.
Rendra, yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah setelah menembus kemacetan kota yang gila, langsung berlari menaiki anak tangga begitu mendengar jeritan histeris dari arah kamar atas. Ketika ia membuka pintu kamar dengan kasar, matanya membelalak lebar melihat pemandangan horor di depan matanya. Aisha sedang menangis meraung-raung di atas lantai dekat ranjang, mendekap Rafa yang masih kejang dengan terlalu kencang. Wajah bayi itu mulai berubah membiru karena kekurangan pasokan udara akibat dekapan ibunya sendiri yang terlalu histeris.
Melihat istrinya tidak merespons dan kondisi Rafa yang berada dalam fase pasca-kejang yang rentan, Rendra mengambil keputusan cepat. Dengan gurat kekecewaan yang mendalam di wajahnya, ia berbalik. Tanpa memedulikan Aisha yang masih menangis meraung di lantai, Rendra menggendong Rafa dengan satu tangan, berlari menuruni anak tangga, dan memacu mobilnya membelah kegelapan malam dan hujan deras menuju rumah sakit sendirian.
Di kamar yang sunyi, Aisha ditinggalkan dalam histeria yang mencekik. Ia berguling di lantai, mencengkeram dadanya yang luar biasa sakit seolah-olah tulang rusuknya sedang patah satu demi satu. Rasa bersalah yang teramat pekat mulai merayap dan menggerogoti jiwanya. Di saat anak kandungnya sedang bertaruh nyawa, ia—sebagai seorang ibu—justru menjadi sosok berbahaya yang hampir merenggut napas anaknya sendiri karena kepanikan yang tidak masuk akal.