Marrying My Anxiety

Pitri Yanti
Chapter #4

Surat yang Membakar Jiwa

Dua minggu setelah malam yang berhujan itu, suasana di dalam rumah tidak pernah lagi sama. Rendra dan Aisha hidup seperti dua orang asing yang terjebak di bawah satu atap yang sama. Tidak ada sapaan di pagi hari, tidak ada lagi kecupan di kening sebelum Rendra berangkat kerja, dan tidak ada lagi telepon yang berdering dari Aisha di sela-sela jam kantor. Keheningan yang tercipta justru terasa jauh lebih mencekam daripada suara bentakan ego yang saling beradu.

Namun, siksaan bagi Aisha tidak hanya datang dari keheningan suaminya. Luka di hatinya kian menganga lebar akibat hantaman kata-kata dari keluarga besar Rendra.

Tiga hari setelah insiden Aisha berlari histeris di bawah hujan, ibu mertuanya datang bersama kakak perempuan Rendra. Bukannya membawa ketenangan, kehadiran mereka justru berubah menjadi ruang penghakiman yang kejam bagi Aisha. Di ruang tamu itu, dengan suara yang merendahkan, sang ibu mertua melontarkan kalimat yang menghancurkan sisa-sisa harga diri Aisha.

"Kamu itu kurang ibadah, Aisha! Kurang iman! Makanya pikiranmu isinya setan semua, curigaan dan ketakutan terus!" ucap ibu mertuanya hari itu, menunjuk wajah Aisha dengan tatapan menghakimi. "Lihat Rendra, kurus memikirkan kamu yang gila seperti ini! Orang yang rajin salat dan paham agama itu hatinya tenang, tidak bertingkah seperti orang kesurupan setiap kali suami terlambat pulang!"

Kata-kata itu berputar di kepala Aisha seperti kaset rusak, meremukkan jiwanya. Demi Allah, Aisha adalah seorang wanita saleha. Ia menutup auratnya dengan sempurna, menjaga salat lima waktunya di awal waktu, tidak pernah melewatkan sepertiga malam untuk bersujud, dan rajin menghadiri kajian-kajian keagamaan. Ia tahu betul ayat-ayat tentang tawakal, ia hafal zikir-zikir penenang hati. Namun, anxiety dan panic attack ini bukanlah masalah hitam-putih tentang tebal atau tipisnya iman. Ini adalah malfungsi pada sistem saraf dan kimia di otaknya—sebuah penyakit fisik dan mental yang tidak bisa sembuh hanya dengan disuruh "jangan banyak pikiran".

Aisha paham agama, namun saat badai kepanikan itu menyerang, tubuhnya lumpuh dan logikanya mati. Dituduh sebagai wanita tanpa iman dan dicap "gila" oleh keluarga suaminya sendiri membuat Aisha merasa benar-benar telah gagal menjadi manusia. Tekanan itulah yang menjadi katalis terakhir, yang memantapkan langkahnya untuk menyusun rencana nekat ini.

Sore itu, langit di luar berwarna abu-abu pekat. Rendra baru saja melangkah masuk ke dalam rumah setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari kantornya. Begitu ia meletakkan kunci mobil di atas meja kerja yang berada di sudut ruang tamu, matanya menangkap selembar amplop cokelat berukuran besar yang terletak rapi di sana.

Di bagian pojok kiri atas amplop tersebut, tertera logo resmi dari Pengadilan Agama.

Jantung Rendra mendadak melewatkan satu detak. Ada firasat buruk yang langsung merayap naik ke tenggorokannya. Dengan tangan yang mendadak kaku, ia merobek segel amplop itu dan menarik keluar beberapa lembar kertas putih di dalamnya.

Mata Rendra membelalak lebar. Huruf-huruf yang tercetak tebal di bagian atas lembaran itu seolah menari-nari, memukul kesadarannya dengan telak.

"Surat Gugatan Cerai."

Nama penggugat tertulis dengan sangat jelas tanpa ada kesalahan satu huruf pun: Aisha Gayatri. Di lembar berikutnya, tertera pula poin mengenai penyerahan hak asuh penuh atas kedua anak mereka, Rafa dan Rania, kepada pihak tergugat—yaitu dirinya sendiri.

Darah Rendra seketika mendidih. Rasa panas yang membakar menjalar dari dada hingga ke ubun-ubunnya, bercampur baur dengan rasa sakit yang luar biasa dahsyat yang langsung menghunjam tepat di pusat jantungnya. Pikirannya seketika buntu. Ia bisa menerima jika Aisha marah padanya. Ia bisa maklum jika mereka butuh waktu untuk saling menenangkan diri setelah pertengkaran hebat dua minggu lalu. Namun bercerai? Mengakhiri pernikahan yang telah mereka bangun dengan linangan keringat dan air mata selama bertahun-tahun? Menyerahkan anak-anak mereka begitu saja?

"Aisha!" bentak Rendra, suaranya yang berat bergetar hebat menahan amarah yang siap meledak.

Lihat selengkapnya