Proses persidangan di Pengadilan Agama berjalan jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan siapa pun. Karena Aisha bersikeras menyetujui semua tuntutan, menolak menuntut harta gana-gini, dan menyerahkan hak asuh anak secara mutlak, hakim tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mengetuk palu. Hari ini, selembar kertas berkekuatan hukum telah resmi menyatakan bahwa ikatan suci yang mengikat Aisha dan Rendra selama tujuh tahun terakhir telah putus. Mereka bukan lagi suami istri.
Sore itu, mendung tebal menggantung rendah di langit, seolah ikut merasakan duka yang merayap di dalam rumah. Aisha kembali ke rumah mereka untuk terakhir kalinya, hanya untuk mengambil sisa pakaian dan mengucapkan selamat kembali yang layak kepada keluarga kecilnya.
Suasana ruang tamu terasa begitu dingin saat Aisha selesai mengemas tas kecilnya. Rendra duduk di sofa panjang dengan kepala tertunduk dalam. Pria tegap itu tampak begitu rapuh hari ini. Kemejanya berantakan, lingkaran hitam di bawah matanya kian pekat, dan pundaknya melorot drastis. Amarah yang meledak-ledak dua minggu lalu telah menguap sepenuhnya, menyisakan kekosongan dan penyesalan yang teramat pekat.
Ketika Aisha melangkah mendekat dengan tas di tangannya, Rendra mendadak bangkit. Tanpa peringatan, pria itu bersimpuh di depan Aisha, memegang kedua belah tangan mantan istrinya dengan cengkeraman yang bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi punggung tangan Aisha.
"Aisha... aku mohon, jangan pergi," bisik Rendra, suaranya parau, tercekat oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan. "Aku menyesal, Aisha. Demi Allah, aku menyesal telah membentakmu malam itu. Aku menyesal mengatakan hidup bersamamu membuatku gila. Aku hanya lelah saat itu, pikiran berantakan... tapi aku tidak pernah benar-benar ingin berpisah darimu."
Rendra mendongak, menatap Aisha dengan sepasang mata yang memerah dan basah penuh keputusasaan. "Tolong cabut semua ini. Kita bisa mulai dari awal. Aku akan menemanimu ke dokter mana pun, aku akan lebih sabar menghadapi panikmu, aku tidak akan memedulikan apa kata ibuku atau keluargaku lagi. Tolong, Aisha... jangan buang aku dan anak-anak."
Melihat pria berwibawa yang selama ini menjadi kepala keluarganya bersimpuh dan menangis seperti anak kecil, pertahanan dingin yang mati-matian dibangun Aisha runtuh berantakan. Air mata yang sejak tadi ia bendung mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia ikut bersimpuh di lantai marmer, menjatuhkan tasnya, lalu mendekap wajah Rendra dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Rendra, lihat aku... tatap mataku, Mas," ucap Aisha di sela isak tangisnya yang sesak. Aisha menggelengkan kepalanya dengan pilu. Ia tidak bisa lagi berbohong. Di ambang perpisahan ini, Rendra berhak tahu kebenaran yang sesungguhnya.
"Aku tidak pernah membencimu, Mas. Aku tidak pernah merasa terikat atau bosan hidup bersamamu. Aku berbohong... semua kata-kata kejamku dua minggu lalu adalah kebohongan terbesar dalam hidupku," aku Aisha dengan suara yang bergetar hebat.
Rendra tertegun, menatap Aisha dengan pandangan tidak mengerti di balik air matanya. "Lalu kenapa, Aisha? Kenapa kamu sekencang ini ingin pergi?"
Aisha mencengkeram kemeja Rendra, membenamkan dahinya di pundak pria itu, menumpahkan seluruh rasa sakit yang membakar dadanya. "Karena aku terlalu mencintaimu, Rendra! Justru karena aku teramat sangat mencintai kamu dan anak-anak, aku harus pergi!"