Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #1

Bentangan Sajadah

Ayah pernah bilang, "Selama masih ada tempat sujud, seseorang tidak pernah benar-benar kehilangan arah dan tempat pulang."


Kalimat itu melekat di dalam hati. Dari kalimat itu, Ayah seperti ingin memberitahuku bahwa setiap tempat sujud bisa jadi tempat pulang.


Di atas sajadah, kedua tangan kuusapkan ke wajah usai berdoa. Aku terdiam sejenak, lalu tangan kananku mengusap permukaan sajadah berwarna krem yang masih aku duduki. Sedetik kemudian, aku bangkit dan melipat sajadah dengan rapi, meletakkannya di salah satu sudut tempat tidur, disusul dengan mukena yang juga dilipat dan diletakkan di tempat yang sama.


Jika setiap tempat sujud adalah tempat pulang, maka dimana pun sajadah itu terbentang, aku harus senantiasa menjaganya tetap dalam keadaan rapi.


Namaku Maryam, tapi aku tidak punya mihrab. Hanya punya sepetak kamar yang biasa menjadi tempatku menggelar sajadah. Aku Maryam binti Hakim, bukan binti Imran. Nama ini diberikan Ayah dan Bunda sebagai doa agar aku bisa meneladani sosok Sayyidah Maryam, wanita mulia penghuni surga yang namanya terabadikan dalam Al-Qur'an.


Alih-alih menjadi seperti Sayyidah Maryam yang berdiam diri di mihrab, aku justru tumbuh menjadi anak perempuan yang suka traveling. Bukan karena aku memegang kebebasan di rumah ini, melainkan karena aku tumbuh dalam aturan-aturan yang membatasi gerakku, membuatku seringkali merindukan dunia luar. Aku suka setiap kali semesta memberiku kesempatan mengepakkan sayap selebar-lebarnya, terbang dan berkelana sejauh-jauhnya, lalu pulang membawa pengalaman berharga dari tiap-tiap perjalanan.


"Mar! Ada pisang goreng nih!" Suara Ayah memanggil-manggil. Aku bergegas membuka pintu dan beranjak keluar kamar sebelum sempat mengecek ponsel yang baru saja diraih.


Aroma pisang goreng panas dan teh melati yang diseduh sudah tercium sejak pintu kamar terbuka. Nyaring suara televisi menyambut bersama Ayah yang kulihat sudah duduk manis di ruang tengah sembari mengunyah pisang goreng di tangan.


"Jemuran angkat dulu, Mar! Udah gerimis tuh!" perintah Bunda yang suaranya tak kalah nyaring dari dapur.


Aku berlari menuju halaman belakang dan buru-buru mengambil satu per satu kain yang tersampir di besi-besi jemuran. Sesaat kepalaku menengadah ke langit, menatap hamparan abu-abu yang mulai menjatuhkan rintik air. Sore ini, berbeda.


Aku menghampiri Ayah yang mulai fokus menatap layar dengan kacamata yang sedikit merosot.


"Kembali lagi bersama kami dalam berita terkini."


Lihat selengkapnya