Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #3

Prambanan, Malioboro, dan Moluccas Kahfi

Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali, membentangkan sajadah begitu azan subuh berkumandang. Usai shalat, aku menyempatkan untuk tadarus sebentar karena semalam aku melewatkannya, sebab kantuk terlalu menguasai diri.

Al-Qur'an kecil di tangan aku tutup, disimpan kembali ke dalam tas, lalu seperti biasa, aku berdoa, mengusap wajah, duduk termenung sejenak sebelum sajadah kuusap dan kulipat rapi. Aku siap menyambut petualangan baruku hari ini!

Pagi ini sarapan nasi uduk dan Candi Prambanan dipilih sebagai destinasi yang akan dikunjungi karena aku ingin mengenang kembali masa-masa dulu saat pergi ke sana bersama Ayah.

Candi yang terletak di antara dua provinsi, yakni Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini berjarak kurang lebih 17 kilometer dari Kota Yogyakarta.

Untuk bisa sampai ke sana, aku memilih naik taksi online menyusuri sepanjang Jalan Laksda Adisutjipto, melewati Simpang Tiga Janti, Jalan Raya Solo-Yogyakarta, melihat Monumen Pangkalan TNI AU serta Bandara Adisutjipto di sisi kanan, lalu melanjutkan perjalanan sekitar 6-7 kilometer, hingga tiba di pintu masuk Candi Prambanan yang letaknya sudah memasuki wilayah Kabupaten Klaten.

Perjalanan yang panjang dengan taksi online ini aku pilih karena inilah pertama kalinya aku solo traveling ke Jogja dan aku belum hafal rute Trans Jogja ataupun transportasi umum lainnya.

Di loket, aku membayar sebesar lima puluh ribu rupiah untuk membeli tiket masuk ke Candi Prambanan. Harga yang menurutlu worth it untuk keindahan sejarah dan kenangan yang mahal.

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia yang diberikan status Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Konon, candi ini adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, selain Angkor Wat. Dibangun pada abad ke-9 masehi atau sekitar tahun 850 masehi oleh Sri Maharaja Rakai Pikatan, lalu diperluas dan dikembangkan oleh Sri Maharaja Dyah Balitung Maha Sambu pada masa Kerajaan Medang. Setelahnya, secara berkala disempurnakan oleh raja-raja dari Kerajaan Medang Mataram berikutnya.

Mengenai tujuan dibangunnya, aku tidak begitu paham. Namun, dari yang kubaca, disebutkan bahwa candi ini dibangun untuk memuliakan Siwa Mahadewa atau dipersembahkan untuk Trimurti, yaitu tiga dewa utama Hindu.

Kompleks candinya memiliki tiga zona, yakni zona luar, zona tengah, dan zona dalam. Yang paling menarik perhatianku dan mungkin juga pengunjung lain adalah zona dalam yang terdiri dari delapan candi utama dan delapan candi kecil berupa kuil.

Di zona dalam ini, ada Candi Siwa sebagai bangunan utama yang menjulang setinggi 47 meter, juga Candi Brahma dan Candi Wisnu di sisi kanan dan kirinya. Ketiga candi ini kemudian disebut Candi Trimurti. Dipersembahkan untuk Trimurti atau dewa utama Hindu, yaitu Siwa Sang Dewa Penghancur, Brahma Sang Dewa Pencipta, dan Wisnu Sang Dewa Pemelihara.

Di depan masing-masing dari ketiga Candi Trimurti ada candi yang lebih kecil, disebut Candi Wahana yang dipersembahkan untuk kendaraan atau wahana ketiga dewa. Candi-candi itu adalah Candi Nandi, Candi Angsa, dan Candi Garuda. Nandi wahana Siwa, Angsa wahana Brahma, dan Garuda wahana Wisnu.

Selain Candi Trimurti dan Candi Wahana, ada juga Candi Apit yang mengapit candi-candi Trimurti dan candi-candi Wahana di sisi utara dan selatan. Sedangkan delapan candi kecil berupa kuil ialah Candi Kelir yang terletak di empat penjuru mata angin dan Candi Patok yang terletak di keempat sudut.

Aku menyiapkan kamera ponselku untuk memotret megahnya Candi Siwa sebagai bangunan utama. Candi ini dihiasi relief yang mengisahkan Ramayana. Pengunjung yang datang ke sini harus masuk dari sisi timur, lalu berkeliling candi sesuai arah jarum jam untuk bisa mengikuti kisahnya sesuai urutan.

Setahuku, Candi Siwa memiliki lima ruangan berisi arca-arca. Di ruang utamanya bersemayam sebuah arca Siwa Mahadewa setinggi 3 meter. Arca-arca lainnya, aku tidak hafal.

Jika di zona dalam ada delapan candi utama dan delapan candi kecil berupa kuil, maka di zona tengah terdiri dari ratusan candi yang tersusun menjadi 4 barisan, disebut Candi Perwara.

Itulah yang aku ketahui tentang Candi Prambanan. Ayahku menjelaskan lebih banyak saat kami ke sini beberapa tahun silam. Salah satunya adalah tentang kaitan Candi Prambanan dan Roro Jonggrang yang kisahnya banyak dipentaskan semasa duduk di bangku sekolah dasar.

Kata Ayah, Candi Prambanan pernah hancur karena gempa sekitar abad ke-16 dan akhirnya tidak digunakan lagi sebagai pusat ibadah umat Hindu. Meskipun begitu, warga Jawa yang tinggal di sekitar masih menemukan dan mengenali candi ini. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui sejarah mengenai siapa yang membangun candi ini dan dari kerajaan mana ia berasal.

Dari situlah tercipta sebuah dongeng dari imajinasi warga yang hingga kini dikenal dengan kisah Roro Jonggrang, seorang puteri cantik yang dikutuk menjadi arca untuk menggenapkan jumlah candi yang dibangun dalam satu malam oleh pasukan jin. Itulah kenapa Candi Prambanan juga sering disebut Candi Roro Jonggrang.

Mengenai cerita candi ini ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda di tahun 1733, aku belum membaca dan mempelajarinya lebih lanjut. Ayah juga tidak menceritakan detailnya.

Selain cerita Roro Jonggrang, kala itu Ayah juga menceritakan tentang sosok raja dan permaisuri di balik kisah pembangunan Candi Siwa, serta kaitan Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang di masa ini banyak dijadikan destinasi untuk para pelajar yang akan study tour.

Menurut cerita Ayah, raja yang membangun Candi Prambanan yaitu Rakai Pikatan, menikahi seorang putri yang beragama lain, yakni dari Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana bernama Pramodawardhani. Sementara itu, Rakai Pikatan sendiri beragama Hindu Siwa.

Pramodawardhani adalah putri dari Samaratungga ---raja dari Kerajaan Medang, yang menurut prasasti Kayumwungan telah meresmikan sebuah bangunan bertingkat-tingkat yang sangat indah. Bangunan ini kemudian ditafsirkan sebagai Candi Borobudur.

Aku yang ketika terakhir kali ke sini bersama Ayah belum dewasa, menganggap semua cerita itu sebagai angin lalu. Aku bahkan tidak ingat semuanya. Hanya ingat tentang kisah Roro Jonggrang yang memang banyak kudengar ketika masih sekolah. Namun kini, setelah dewasa, cerita-cerita Ayah itu hidup kembali di kepalaku, membangun kekaguman akan Candi Prambanan yang keindahannya begitu memikat. Tentunya juga membangun kekaguman akan sosok Ayah yang hebat.

Ayah hebat karena tidak hanya mempelajari sejarah Islam di Jawa saja. Hampir semua hal yang berkaitan dengan dengan tanah Jawa, Ayah mempelajarinya. Termasuk kisah beberapa raja dan sultan.

Aku keluar dari Kompleks Candi Prambanan menjelang sore dan memilih mampir dulu untuk makan di area pasar sekitaran candi. Tak lupa, membeli beberapa oleh-oleh dari pedagang di sana.

Lihat selengkapnya