Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #4

Mbak Hajar dan Keputusan Childfree

"Mar! Jendelanya dibuka! Udah siang ini."

Bunda berteriak masuk ke kamarku tanpa permisi, membuatku terlonjak dan ponsel di tangan hampir saja terlempar.

Aku lantas bangun, masih dengan ponsel di tangan, sedangkan gorden kubuka dengan satu tangan lainnya. Sejak habis subuh tadi, aku sedang stalk akun seseorang yang baru saja mengikuti akunku semalam. Yap! Moluccas Kahfi.

Sudah dua hari sejak pertemuan terakhir kami di Malioboro. Aku kira, dia tidak langsung follow karena lupa username-ku. Rupanya, tidak sama sekali. Dia justru mengikutiku lebih dulu.

Jempolku meng-klik tulisan 'ikuti balik' dan melanjutkan penyelidikan mandiri. Tidak ada foto pribadi yang diunggah. Hanya beberapa mention dari akun organisasi pecinta alam yang mengunggah foto-foto kegiatan mereka, yang tentu saja di sana ada lelaki itu.

Jiwa intel dalam diriku mulai meronta. Nol unggahan dan dua sorotan. Satu sorotan berisi dokumentasi kegiatan, satu lagi foto-foto tempat yang pernah dikunjungi. Analisisku, dia tipe cowok cool yang suka menyembunyikan kedekatan dengan lawan jenis dari publik. Tipe laki-laki yang bisa menggegerkan dunia hanya dengan mengunggah satu foto perempuan. Aku jadi penasaran, perempuan seperti apa yang bisa mengambil hati dan perhatiannya.

Saat baru saja hendak mengecek daftar orang-orang yang dia ikuti, aku tersadar akan sesuatu. Untuk apa aku melakukan ini?

Belum sempat pertanyaan itu terjawab, teriakan Bunda menggema di seluruh penjuru rumah, mengingatkanku bahwa ada setumpuk piring kotor yang menunggu untuk aku cuci seperti biasa.

Aku meninggalkan ponsel di atas tempat tidur, kemudian melangkahkan kaki dengan malas menuju dapur yang sudah sibuk dengan berbagai bahan yang siap dimasak.

"Mbak Hajar mana, Bun?" tanyaku saat mulai membasuh piring-piring kotor dengan air. Sementara itu, Bunda berdiri di depan kompor, sedang menggoreng cabai dan tomat yang akan diulek bersama terasi.

"Masih tidur di kamar Mbak May. Biarin, capek pasti dia. Biar enggak ngantuk juga pas nyetir. Nanti siang, kan, mau pulang," jawab Bunda. Suaranya terdengar beradu dengan suara minyak panas di penggorengan.

Pulang, katanya. Padahal rumahnya di sini.

"Kalau Ayah?"

"Lagi nyuci motor di depan."

Secepat kilat aku selesaikan cucian piring yang menjadi tugas harian. Dilanjut dengan menyapu lantai dan mandi setelahnya. Usai mandi, sajadah kembali aku gelar untuk menunaikan shalat dhuha. Dua rakaat ditunaikan, ditutup dengan doa, dan sajadah pun kembali dilipat rapi seperti semula.

Kubuka ponsel lagi, sambil menunggu Mbak Hajar bangun dan mandi. Kali ini bukan untuk stalk laki-laki bernama Moluccas Kahfi itu, melainkan untuk membuka percakapan di grup chat. Teman-teman di komunitas penulis sedang membahas tentang tantangan menulis dan rencana riset mereka.

Pukul sebelas kurang sepuluh menit, aku menyudahi kegiatanku dan bergegas keluar kamar saat mendengar suara Mbak Hajar. Semua orang berkumpul di meja makan yang kini sudah tersuguh sepiring ayam goreng, tempe dan tahu, timun sebagai lalap, serta sambal terasi yang dibiarkan di cobeknya.

"Mar, ayo makan," ajak Ayah dari kursinya.

"Ya, Yah." Aku duduk di sebelah Mbak Hajar. Dia tampak sudah rapi dan siap kembali ke perantauan yang kini telah menjadi rumah keduanya.

"Jam berapa mau berangkat nanti?" tanya Ayah pada Mbak Hajar.

Lihat selengkapnya