Jam di dinding menunjukkan pukul setengah lima. Aku yang baru selesai mandi dan shalat, bergegas menghampiri Ayah dan Bunda di depan.
Bunda menyiram tanaman, Ayah duduk di teras sambil membaca sebuah buku tebal dan sesekali menyeruput tehnya, menjadi pemandangan sore yang lumrah kujumpai sejak kecil. Mereka punya hobi dan kesenangan yang berbeda. Ayah menyukai buku, sejarah, budaya, dan seni sejak muda. Sementara Bunda, suka mengoprek tanaman di halaman. Mengoleksi bunga di pot-pot kecil, hingga menanam tanaman-tanaman obat.
"Ayah," panggilku yang langsung duduk di sebelah Ayah.
Ayah mengalihkan pandangannya sebentar dari buku yang sedang dibaca. "Kenapa, Mar?" tanyanya sambil membetulkan kacamata yang merosot.
Tanpa basa-basi, aku mengutarakan keinginanku. "Mar mau ikut seminar di Jakarta, boleh? Sebelum mulai kuliah."
"Seminar apa lagi sih, Mar? Kemarin baru habis dari Jogja, masa sekarang mau ke Jakarta lagi," protes Bunda. Rupanya Bunda mendengar meski dari kejauhan.
"Beda, Bunda. Kemarin lomba, ini seminar. Lagipula cuma setahun sekali seminarnya." Aku membela diri. "Boleh, ya?" bujukku.
"Tanya Ayah tuh. Masih sanggup apa enggak Ayahmu itu biayai anaknya yang kerjaannya jalan-jalan terus."
Aku memasang senyum semanis mungkin di depan Ayah dan satu jurus itu jelas saja berhasil meluluhkan hatinya.
"Enggak sanggup pun bakal Ayah sanggup-sanggupin kalau udah disenyumin begini," kata Ayah pasrah.
"Eh, tapi ingat, ya. Ayah sama Bunda kasih izin ada syaratnya. Kamu boleh ke Jakarta, tapi nginepnya harus di tempat Mbak Hajar. Enggak boleh nginep di tempat lain," peringat Bunda.
"Okay ... tapi mau mampir ke Cirebon dulu gakpapa, kan?"
Bunda mematikan keran yang terhubung ke selang. "Ngapain ke Cirebon?"
"Mau belajar. Riset buat bahan tulisan. Boleh, kan, Yah?" Aku membujuk Ayah lagi, berharap kali ini juga berhasil.
Kulihat mata Ayah melirik Bunda. Mata mereka seperti sedang berdiskusi.
"Sebentar aja kok. Aku mau belajar membatik di sana."