Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #7

Canting dan Jalur Pantura

Destinasi kedua yang akan kami kunjungi letaknya cukup jauh dari pusat kota. Kami harus bergerak ke sisi barat, melewati sebuah gapura yang memisahkan wilayah kota dan kabupaten Cirebon.

Sepanjang perjalanan, aku dan yang lain sempat bertukar username media sosial, juga berbincang tentang GNK dan beberapa kegiatan yang pernah aku ikuti selama hampir dua tahun belakangan.

Dan tibalah kami semua di sebuah kawasan dengan gapura selamat datang bertuliskan "Kawasan Batik Trusmi".

Seperti tujuan awal, kami langsung mengunjungi pusat grosir batik modern yang sudah dihubungi mendadak sewaktu di stasiun tadi untuk belajar langsung cara membatik.

Dengan alat yang sudah disiapkan, aku, Mas Kahfi, dan yang lainnya didampingi pemandu memulai tahapan membatik dari nyungging atau menggambar pola, lalu njaplak yaitu menjiplak pola ke kain, barulah setelah itu ngelowong atau melukis dengan canting dan lilin panas. Kulihat Mas Kahfi dan teman-temannya sangat menikmati kegiatan ini.

"Tangan kamu kelihatannya enggak kaku, ya. Beda sama tangan saya," ujar Mas Kahfi tertawa kecil seraya melirik canting di tanganku yang bergerak mengikuti pola. Tangannya sendiri dari tadi kuperhatikan beberapa kali tidak sengaja menyentuh lilin panas.

Aku tersenyum mendengarnya. "Ayahku punya toko batik, Mas. Dari kecil, aku suka diajak ke rumah produksinya buat lihat langsung cara membatik."

Mas Kahfi membulatkan mulut. "Pantesan. Tau banyak dong soal batik?"

"Sedikit. Ayah yang tau banyak. Beliau pecinta batik garis keras."

Mas Kahfi tertawa lagi. "Fans fanatik, ya," candanya.

"Semacam itulah."

Selesai membatik, kami berkeliling toko untuk melihat-lihat. Di Batik Trusmi ini, selain ada batik Mega Mendung yang sudah sangat terkenal, ada juga motif lain seperti Paksi Naga Liman, Singa Barong, dan motif-motif batik pesisir.

Aku membiarkan mereka keliling dan memilih yang ingin mereka beli sesuka hati. Aku sendiri hanya beli sehelai kain yang rencananya nanti akan kutunjukkan pada Ayah ketika pulang.

"Udah dapat?" Suara Mas Kahfi mengagetkanku dari belakang. Entah kenapa dia malah di sini, bukan ikut pilih-pilih dengan yang lain.

Kuangkat tanganku untuk menunjukkan kain yang kupilih. "Udah nih," jawabku.

"Satu?"

"Mas juga cuma ambil satu." Aku menunjuk sebuah kemeja yang dia bawa. Kemeja bermotif serupa dengan yang dipilih ketiga temannya.

Dia lantas menggaruk kepala. "Bingung mau beli yang mana. Kamu pilihin buat saya, ya."

Heran, jari telunjuk sontak kuarahkan ke wajah sendiri. "Aku? Kenapa aku?"

"Kamu, kan, pasti ngerti mana yang bagus dan cocok buat saya."

Sedetik kemudian, teman perempuannya ikut muncul entah dari mana.

"Pilihin buat aku juga dong, Mar."

Baiklah, tugas tambahan diterima. Untuk Mas Kahfi, aku pilihkan kemeja berwarna hitam dengan corak coklat keemasan. Sementara untuk temannya, aku pilihkan sebuah outer warna merah bermotif mega mendung. Tegas, namun tetap berwibawa.

Selesai belanja, kami menuju kasir untuk mengantre pembayaran. Ketiga teman Mas Kahfi kubiarkan jalan duluan di depan, lalu aku mengikuti di belakang. Sambil berjalan di barisan paling belakang, mataku memandang sekeliling, membayangkan Ayah punya toko yang sebesar ini dengan cabang dimana-mana. Didatangi wisatawan dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Benar kata Ayah. Leluhur kita di tanah ini kaya. Buktinya, warisannya masih menemani kita hidup sampai hari ini.

Saat aku sedang senyum-senyum sendiri mengingat ucapan Ayah, Mas Kahfi yang berdiri tepat di depanku menoleh.

"Ngapain di belakang?" tanyanya. "Sini, maju! Jangan di belakang."

Dia benar-benar berhenti di tempat, menungguku maju sampai kami bertukar posisi. Aku di depannya, dia di belakangku.

"Mar, kalau nanti lewat Pantura, gakpapa? Saya sama teman-teman mau lewat daerah Eretan, Indramayu. Kamu enggak buru-buru, kan?"

Tadi Mas Kahfi dan teman-temannya memberi tawaran padaku agar ikut dengan mereka naik mobil ke Jakarta. Karena kupikir kami memang searah, akhirnya kuterima tawaran itu. Lagipula, aku juga tidak punya alasan untuk menolak.

Lihat selengkapnya