Gema nyanyian Selamat Ulang Tahun menghiasi teras rumah yang menjadi tempat ternyaman selain ruang tengah untuk Ayah membaca, mengutak-atik koleksi wayangnya, sampai mengerjakan berbagai bentuk pekerjaan yang dibawa ke rumah. Dan tentunya menjadi tempat kesukaan Ayah karena dari tempat inilah Ayah bisa puas memandangi Bunda yang banyak menghabiskan waktu sorenya dengan merawat tanaman.
"Selamat ulang tahun, Ayah!" ucapku yang kini membawa bolu pisang kesukaan Ayah. Polos. Tanpa lilin, tanpa balon, tanpa terompet atau hiasan lain.
"Terima kasih, anak Ayah!"
Tak memberi aba-aba sebelumnya, Ayah tiba-tiba mencium pipiku. Cepat-cepat aku usap pipiku dan protes, "Ayah! Mar udah gede."
Ayah tertawa. "Emangnya kalau udah gede enggak boleh dicium? Malu?"
"Bukan gitu. Geli!"
"Ya udah kalau gitu, Ayah cium Bunda aja."
Bunda yang menjadi sasaran berikutnya juga protes ketika pipinya dicium tanpa izin, tanpa permisi.
"Udah, ah! Bunda mau ke dapur, ambil pisau buat bolunya sekalian bikin teh."
Bolu pisang dan teh hangat di sore hari memang jadi combo maut yang melenakan. Apalagi dinikmati bersama orang-orang terkasih. Nikmat tiada tanding.
Sepeninggal Bunda, aku dan Ayah duduk bersebelahan di bangku teras. Bolu pisang yang semula kubawa di tangan, kini aku letakkan di atas meja.
"Di umur baru ini, doa Ayah apa?"
"Eum ... pastinya jadi lebih baik dari sebelumnya."
"Selain itu?"
"Sehat, panjang umur, bisa lihat anak-anak kesayangan Ayah sukses, menikah, berkeluarga."
Sebuah doa sederhana yang berhasil membuatku tercekat, teringat akan sesuatu.
Malam itu, aku turun dari mobil Mas Kahfi dan menghampiri kedua kakakku yang sedang adu mulut di depan gerbang.
"Mar sebentar lagi pasti datang. Mbak nanti jelasin sendiri ke dia."
"Ya kamu bantulah Mbakmu ini, Dek."
"Mbak, cukup, ya! Aku nerima Mbak aja udah alhamdulillah. Aku udah capek seharian ini. Banyak yang mesti aku urusin di hidupku sendiri, Mbak. Kalau aja aku enggak mikirin Ayah sama Bunda, enggak bakal aku terima Mbak datang ke rumahku dengan bawa skandal Mbak ini."
"Ok, fine! Yang penting sekarang masuk dulu. Mbak mau istirahat. Edinburgh ke sini enggak deket."
Kata 'skandal' yang terlontar dari mulut Mbak Hajar bersamaan dengan tangannya menunjuk ke perut Mbak May itu yang membawaku turun dari mobil untuk menagih sebuah jawaban.
"Skandal apa? Mbak May kok di sini?" tanyaku penuh selidik. Mereka berdua tampak terkejut dengan kedatanganku.