Embun pagi membasahi rumput yang belum sempat disapa. Di dapur, Bunda sibuk menyiapkan beberapa bahan yang akan dibuat hidangan istimewa untuk tamu. Dari pagi sampai matahari naik hampir di atas kepala, Bunda memastikan tak ada satu pun yang kurang. Bukan hanya masakan, tapi juga kue yang nantinya akan dibawakan sebagai buah tangan.
Siangnya, kami makan bersama di meja makan. Aku, Ayah, Bunda, Mbak Hajar, dan seorang laki-laki yang datang jauh-jauh dari Jawa Timur.
"Kamu mungkin sudah tau tujuanku datang ke sini," ucap laki-laki berusia matang itu kepada Mbak Hajar yang duduk di sebelahnya dengan meja sebagai penghalang.
Posisiku sekarang duduk di teras bersama mereka berdua, menjadi nyamuk yang diutus oleh Ayah dan Bunda yang kupergoki sedang mengintip dari jendela ruang tamu.
"Ya, aku tau. Ayah udah cerita," balas Mbak Hajar.
"Aku harus panggil kamu apa?"
Suasana canggung begitu kental terasa, bahkan bisa dirasakan olehku yang sama sekali tak berkepentingan di perbincangan serius ini.
"Hasri aja. Hajar Srikandi."
"Baiklah. Sebelum kita ngobrol jauh, aku mau tau kenapa kamu terbuka dengan perjodohan ini? Karena di zaman sekarang, kayaknya hanya sebagian kecil perempuan yang mau menikah dengan cara dijodohkan."
Kulihat Mbak Hajar menarik napas panjang sebelum menjawab, "Dijodohkan atau memilih sendiri, sama aja. Selama baik dan kitanya cocok, kenapa enggak? Semua orang tua juga, kan, pasti mau yang terbaik buat anaknya. Lagipula, Ayah bukan tipe orang tua yang suka memaksakan kehendak. Kalau anaknya enggak suka, tinggal tolak, Ayah pasti ngerti. Mas Hadid sendiri kenapa mau?"
"Karena yakin Abuya memilihkan yang paling baik di antara semua yang baik."
"Nah, itu."
"Kalau gitu, ayo kita buka perkenalan ini dengan memperkenalkan diri masing-masing."
Aku mengubah posisi dudukku jadi sedikit lebih tegak. "Eits! Kata Ayah, dilarang ada sentuh-sentuhan dengan alasan apa pun," peringatku.
Lalu, laki-laki itu terkekeh. "Tenang, aku tau kok," ujarnya.
"Ok, aku mulai duluan, ya," kata Mbak Hajar.
Laki-laki yang kuketahui bernama Hadid itu mempersilakan.
"Kayak yang aku bilang tadi, panggil aja aku Hasri. Umur baru dua empat. Background pendidikan S1 Ilmu Komunikasi, tapi pernah sekolah di jurusan tataboga. Sekarang, kerja sebagai koki di salah satu resto di Jakarta."
"Ok, aku Hadid. Kalau umur kamu dua empat, itu berarti kita selisih tujuh tahun. Selisih yang cukup jauh, tapi semoga kamu enggak keberatan soal itu."
"Nope, aku fine-fine aja. Mau lebih muda sekali pun, selama masih bisa mengimbangi, umur enggak masuk kriteria prioritas."
Obrolan mulai terdengar mengalir. Mbak Hajar dan lawan bicaranya mulai tidak ragu lagi untuk menimpali satu sama lain.