Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #10

Hal Baik Punya Banyak Bentuk

Dapur-kasur-sumur menjadi template keseharian setelah keputusan berhenti dari kegiatan volunteer diambil. Untungnya, aku punya alternatif untuk mengisi hari, seperti melanjutkan tulisan-tulisanku, ikut kajian-kajian online, atau melakukan kegiatan pengembangan diri lainnya yang bisa dilakukan dari dalam rumah.

"Mar, Bunda mau masak mie. Kamu mau?" Bunda membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya dulu.

Aku yang sedang menderas Qur'an seketika menyudahi bacaan dengan kalimat tashdiq.

"Mar lagi ngaji, Bunda," geramku karena merasa kegiatan mengajiku terganggu.

Qur'an bagiku adalah media komunikasi dengan Sang Pencipta. Seletih apa pun raga, harus selalu aku luang-luangkan waktu untuk mengaji. Oleh karenanya, aku pasti akan sangat merasa terganggu jika ada siapa pun yang masuk kamar, apalagi tanpa mengetuk pintu, di saat aku sedang mengaji seperti sekarang.

Kutarik napas panjang seraya memejamkan mata, lalu melanjutkan bacaan setelah Bunda menutup kembali pintu kamar.

Usai mengaji, aku duduk di sisi tempat tidur, memainkan ponsel dengan posisi mukena yang belum dilepas. Sajadah di lantai kubiarkan terbentang karena aku masih menunggu waktu isya tiba.

Data seluler ponsel dinyalakan, mengundang puluhan notifikasi pesan masuk dan satu panggilan tak terjawab dari Mas Kahfi yang kemudian kubalas dengan sebuah pesan singkat.


Maryam Sawitri Hakim

Assalamu'alaikum, Mas Kahfi.

Maaf tadi aku lagi ngaji, hehe.


Beberapa hari lalu, aku memberanikan diri menyapa Mas Kahfi lewat nomor telepon yang pernah dia berikan, setelah selama ini kami hanya berbalas pesan di media sosial. Bukan tanpa alasan, hal ini kulakukan karena aku teringat laki-laki itu saat Ayah mengatakan usahanya sedang tidak baik-baik saja. Aku meminta saran dan bantuan dari Mas Kahfi untuk membangun kembali usaha Ayah.


Moluccas Kahfi

Oalah. Maaf saya mengganggu. Silakan dilanjut ngajinya, Mar. Kalau sudah selesai kabari saya, ya.


Tak kusadari, senyumku mengembang saat membaca balasan pesannya.


Maryam Sawitri Hakim

Siap, Mas. Habis isya aku telepon balik.


Setelah itu, tidak ada balasan lagi. Dan sesuai janjiku, sehabis menunaikan shalat isya, kutelepon balik dia sambil melipat sajadah. Tak perlu menunggu lama, dia mengangkat teleponnya.

"Assalamu'alaikum, Mas Kahfi. Maaf nunggu lama," ucapku membuka percakapan. Masih mengenakan mukena, aku kembali duduk di tepian tempat tidur, memangku sebuah bantal.

"Gakpapa, Mar. Udah selesai ngajinya?"

"Udah, Mas."

"Pasti ngajinya di mihrab, ya? Jangan buru-buru, Mar. Ngaji di mihrab harus khusyuk."

Lihat selengkapnya