Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #11

Sisa Kebebasan Untuk Si Bungsu

Di atas sajadah yang terbentang, aku duduk bersila. Untaian tasbih berputar di tangan, bersamaan dengan mulut yang mengulang nama Tuhan Yang Esa, namun kepala ramai dipenuhi segala tentang dunia.

Aku menyudahi dzikir karena tak bisa khusyuk. Kedua tanganku menengadah, berdoa lebih cepat dari biasanya. Setelahnya, tidak langsung bangkit. Aku masih duduk, memandang ke sembarang arah sambil memikirkan sesuatu yang tiba-tiba datang ke pikiranku. Soal Mbak May dan anak di dalam kandungannya. Sudah berapa bulan?

Perut Mbak May akan terus membesar dan anak itu akan lahir. Berarti cepat atau lambat, Ayah dan Bunda akan mengetahui semua pada akhirnya. Membayangkannya saja aku tidak berani, lalu bagaimana aku akan jujur pada mereka?

Kejujuran yang menyakitkan memang lebih baik daripada kebohongan yang indah. Namun untuk kali ini, jika bisa menghindar dari kejujuran itu, maka aku akan memilih berlari darinya. Aku mulai protes atas apa yang telah terjadi. Menyesali kenapa harus aku dan Mbak Hajar yang menjadi orang pertama yang menerima kejujuran sepahit ini, sekaligus menjadi dua orang pertama yang harus ikut cemas memikirkan masa depan bayi itu.

Di waktu yang bersamaan, aku teringat ajakan Mas Kahfi. Dan aku mulai berpikir...

Apa memang sebaiknya aku pergi ke Morotai?

Bukan untuk menghilang atau lari dari kenyataan. Setidaknya, untuk menjaga kewarasan diri sebelum huru-hara yang sangat mungkin akan terjadi di rumah ini. Ya. Aku juga harus mempersiapkan diri.

Morotai dalam bayangan membuatku bangkit dari duduk silaku, melepas mukena, melipat sajadah terburu-buru, namun tetap memastikan lipatannya rapi. Setelah itu, kubuka pintu kamar dan kuhampiri Bunda di ruang tengah.

Ayah belum pulang. Kupikir, inilah waktu yang tepat untuk merayu Bunda. Lebih cepat, lebih baik. Ayah sudah pasti setuju kalau Bunda juga memberi izin.

"Bunda..." Aku setting nada bicaraku semanis mungkin sambil duduk di sebelah Bunda yang sedang fokus menonton.

"Hm?"

"Mar mau liburan sekalian ikut kegiatan sama temen-temen organisasi, boleh, ya? Janji, ini terakhir. Habis ini, Mar bakal fokus buat kuliah."

"Kemana lagi?"

Ragu sempat menyambangi saat aku ingin menyebut, "Morotai."

"Maluku? Yang waras kamu, Mar!" pekik Bunda.

"Maluku Utara, Bunda."

"Sama siapa? Sama laki-laki yang waktu itu lagi? Yang katanya aktivis itu?"

Aku mengangguk pelan, kemudian amarah Bunda tersulut karena satu anggukan itu.

"Enggak! Enggak ada pergi-pergi ke Morotai. Kamu pikir Morotai itu deket apa?"

"Kali ini semuanya dibayarin kok, Bun," bujukku sambil memasang muka memelas.

Lihat selengkapnya