Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #12

Perasaan Tak Bernama

Dengan berat hati kukabari Mas Kahfi kalau aku tidak bisa ikut ke Morotai. Aku berterus terang padanya bahwa Ayah dan Bunda tidak memberiku izin untuk pergi.

Dan tanpa kujelaskan alasan detailnya, Mas Kahfi sudah bisa mengerti. Tidak ada paksaan sama sekali. Dia justru bilang, "Gakpapa, Mar. Nanti selama di sana, saya bantu riset kamu biar tulisannya cepat selesai."

Bunda selama ini selalu salah paham tentang Mas Kahfi. Bahkan terkadang terkesan tidak suka ketika aku menyebut namanya. Padahal yang kulihat, justru sebaliknya. Aku tak bisa menghakimi Bunda, tapi juga tidak bisa menutup mata dari semua kebaikan yang telah Mas Kahfi lakukan sejak awal kami bertemu. Dia sama sekali bukan laki-laki pembawa pengaruh buruk. Tidak pernah sekali pun mengajak untuk melakukan hal yang aneh-aneh dan terlihat sangat bisa menghormati perempuan.

"Emangnya kamu mau nulis apa aja tentang Morotai?" tanyanya padaku saat di telepon.

"Aku butuh data kayak ... list destinasi wisata, transportasi, terus hal-hal menarik yang ada di sana, sama paling sejarah tentang perang dunia dua, Jendral MacArthur, dan Teruo Nakamura."

"Ok, noted. Saya bakal catat setiap detail perjalanan ke Morotai buat kamu."

Hatiku senang mendengarnya, meski kurasa ada sesuatu yang mengganjal. Aku mulai mempertanyakan kenapa dia bisa sebaik ini padaku. Belum lama kami saling mengenal, tapi dia bahkan menawarkan sesuatu yang tak pernah aku minta. Kuharap tak ada yang salah dari semua ini.

Kulupakan sejenak Morotai dan kembali menghadapi realita. Berbekal izin dari Ayah, aku ke Jakarta, membantu mencarikan kontrakan untuk tempat tinggal Mbak May.

"Aku ada segini, Mbak. Mbak Hajar tolong tambahin buat kontrakan."

Di depan Mbak Hajar, tanganku menyerahkan sebagian tabungan yang nanti akan dipakai untuk membayar sewa kontrakan.

Mbak May minta tolong padaku untuk dicarikan kontrakan, maka aku paham itu maksudnya berarti dia juga minta tolong aku membayar uang sewanya. Karena Mbak May sudah tidak bekerja. Uang tabungannya mungkin sudah habis dipakai untuk ongkos pulang dari Edinburgh ke Jakarta. Kalaupun masih ada, pasti akan dipakai untuk kebutuhan bertahan hidup sehari-hari. Ditambah lagi dia sedang hamil. Kebutuhannya bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk bayi dalam kandungannya.

Kulihat Mbak Hajar memijat pelipis pelan. Dia meneguk segelas air dan pada akhirnya menyetujui untuk menambahkan uang tabunganku agar cukup dipakai membayar sewa kontrakan. Berhubung Mbak May juga tidak membawa banyak barang, akhirnya diputuskan langsung pindah setelah dapat kontrakan yang cocok.

"Makasih, ya, Mar, Haj. Mbak janji nanti Mbak ganti uangnya kalau udah dapat kerja," ucap Mbak May saat kunci kontrakan sudah kami terima dan kami memilih istirahat sejenak di kontrakan tiga petak yang kini jadi tempat tinggal baru Mbak May.

"Enggak usah maksain buat kerja. Jaga aja anak itu dengan baik. Dia punya kesempatan buat hidup karena udah terlanjur ada di perut Mbak May," celetuk Mbak Hajar.

"Soal Ayah gimana, Mar?"

Lihat selengkapnya