Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #13

Sebuah Pertemuan Mengakhiri

Udara pagi ibu kota menyambut dari lubang-lubang angin di atas jendela. Mbak Hajar sudah berangkat pagi-pagi sekali, sedangkan aku masih bergumul dengan pikiranku di atas kasur, di antara selimut dan guling yang tata letaknya sudah tak karuan. Semalaman, aku tidak bisa tidur. Terus kepikiran tentang perasaanku kepada Mas Kahfi.

Sepagi ini, aku kembali teringat perjumpaan pertamaku dengan lelaki itu di Jogja. Pikiranku menyusuri timeline, mengamati di titik mana perasaanku mulai berubah padanya.

Hari itu, seingatku, aku memandangnya dengan tatapan yang biasa. Hanya sebagai seorang peserta lomba yang hafal nama juri, tapi tidak mengamati gerak-geriknya. Sejak awal ikut lomba itu, aku tahu salah satu jurinya bernama Moluccas Kahfi. Seorang aktivis lingkungan yang memang diutus menjadi juri karena dia adalah salah satu anggota organisasi yang turut mendukung berlangsungnya lomba. Tak ada alasan aku mempertanyakan keberadaannya di sana, karena memang tema yang diusung juga relevan dengan background-nya.

Lalu, pertemuan tak sengaja kami di Malioboro. Aku percaya takdir. Tidak ada satu kejadian pun yang kebetulan dalam hidup ini. Di sana, aku menyapa duluan karena tidak menyangka akan bertemu lagi setelah lomba dan pengelanaan panjangku ke Prambanan berakhir. Dia memuji karyaku. Sebagai penulis amatir dengan pengalaman segini-gininya, bukankah hal yang wajar jika aku merasa senang atas pujiannya?

Saat dia memberikan nomor teleponnya, mulai mengikuti akun media sosialku, kemudian aku penasaran dengan sosoknya, dan dia menjadi followers yang setia memperhatikan setiap unggahan seperti katanya waktu itu, apakah ini awal dari perasaan tak bernama yang kini menyinggahi hati?

Atau mungkin ... perasaan ini muncul saat dia menjemputku di stasiun? Atau di toko batik saat dia menunjukkan sisi gentle-nya? Atau mungkin juga saat semesta menakdirkannya menjadi saksi atas skandal keluargaku malam itu? Mungkinkah sejak dia mengetahui banyak tentang hidupku?

Ah, entahlah! Aku tidak tahu. Yang jelas, kami mulai intens mengobrol sejak pertemuan kedua di Cirebon. Selain aku yang meminta bantuan dan mengajaknya diskusi perihal usaha Ayah, entah mengapa selalu ada topik lain yang bisa kami bahas, yang membawa kami pada obrolan-obrolan seru, meski tidak setiap hari. Aku merasa nyaman dengan kehadirannya yang tak pernah terasa memaksa masuk ke dalam hidupku. Semua mengalir begitu saja, seolah memang sudah jadi jalannya.

Pertanyaannya, sudah benarkah aku ada di jalan ini?

Aku paham, tidak ada yang salah dari perasaanku. Yang salah adalah ketika aku sudah memutuskan untuk tidak menikah, tapi masih merawat perasaan ini, hingga menjadikannya tumbuh liar tanpa arah.

Hari ini, aku tersadar akan sesuatu. Benar nasihat para ulama. Bahwa jika bukan agama yang dijadikan pegangan, maka seorang perempuan bisa jadi gila sebab perasaannya. Dan itulah yang aku alami saat ini. Dengan secuil ilmu pengetahuan yang aku punya, aku harus segera menyelesaikan semuanya.

Sore hari, aku bersiap menemui Mas Kahfi setelah sempat janjian sebelumnya. Kami akan bertemu di sebuah pusat perbelanjaan usai dia pulang bekerja.

Aku tiba di sana menjelang maghrib, atas izin dari Mbak Hajar tentunya. Dialah satu-satunya orang yang tahu aku akan menemui Mas Kahfi sore ini.


Moluccas Kahfi

Mar, saya sudah di parkiran. Kamu tunggu di sebelah mana?


Pesan itu kubaca tepat saat aku menginjakkan kaki di pintu masuk mall. Sengaja tidak langsung membalas karena aku perlu mencari dulu letak sebuah toko yang ingin kukunjungi. Sore ini, aku tidak ingin mengajaknya makan di restoran, melainkan masuk ke toko buku untuk mengetahui sesuatu.

Kukirim nama toko buku yang dimaksud dan bilang kalau aku sudah menuju ke sana.


Moluccas Kahfi

Ok, saya ke sana.


Rupanya, dia memang tipikal laki-laki yang suka datang tepat waktu. Selalu.

Aku bergegas menuju toko buku itu agar bisa sampai lebih awal darinya. Hanya butuh berdiri kurang dari lima menit di depan toko buku, dia datang menghampiriku. Senyumnya masih ramah seperti biasa. Cara berpakaiannya masih terlihat sederhana. Kaos putih, jaket coklat muda, celana panjang, sneakers, jam di pergelangan tangan, dan sebuah tumbler hitam dalam genggaman. Hanya tatanan rambut saja yang tidak serapi biasanya.

"Hai, Mar! Sorry telat, ya. Udah nunggu lama?"

Aku menggeleng. Bukan dia yang terlambat, tapi aku yang datang lebih cepat dari kesepakatan.

"Jadi, ada apa ngajak ketemu di sini? Mau bahas konsep yang kemarin, Mar?"

"Bukan. Aku ... mau beli buku. Temenin cari buku?"

Aneh. Memang terdengar sangat aneh alasan dadakan itu. Jelas-jelas dia bukan kutu buku sepertiku. Jauh-jauh ke Jakarta, mengajaknya bertemu di antara segudang kesibukannya, dan sekarang aku beralasan ingin ditemani mencari buku. Bodoh, tapi sudahlah. Aku hanya ingin mengulur waktu karena tak ingin berterus terang begitu cepat. Dia baru datang dengan tergopoh-gopoh. Mana bisa aku langsung to the point. Apalagi ini soal kelanjutan kisah kami.

Lihat selengkapnya