Mas Kahfi bersama tim GNK sudah berangkat ke Morotai dan aku hanya bisa menyimak unggahan teman-temannya yang waktu itu pernah dikenalkan padaku di Cirebon. Dia sendiri tidak memberiku kabar apa-apa, sesuai permintaanku.
Aku pulang ke rumah setelah merasa semua yang perlu diurus di Jakarta selesai. Ada pekerjaan yang menjadi tanggung jawab sejak aku menjadi editor freelance yang dibayar oleh temannya Mas Kahfi. Ya, aku akhirnya menerima tawaran itu. Tawaran yang pernah dia beri ketika kami bertemu di Malioboro, yang waktu itu sempat aku tolak.
Apa mau dikata. Nasib berkata lain, aku harus cari pekerjaan untuk tambah-tambah uang jajan sendiri setelah tahu ekonomi keluarga sedang berantakan. Untungnya, tawaran Mas Kahfi itu masih berlaku. Aku jadi bisa dapat uang dengan mengerjakan pekerjaan yang sesuai passion-ku. Sudah kubilang, Mas Kahfi punya banyak jasa di hidupku sepanjang perkenalan kami yang belum lama ini.
Ah, sial. Ternyata tidak semudah itu menghapus nama seseorang. Apalagi dia pernah menjadi seseorang yang selalu ada di setiap momen kehidupanku. Baru sebentar, tapi membekas. Seperti bekas permen karet yang menempel dan tak bisa dihilangkan dalam satu waktu. Mungkin juga memang tidak untuk dilupakan.
Dari Jakarta, aku pulang naik kereta dan tiba di rumah sekitar pukul lima sore. Pagar depan yang tidak pernah dikunci, kecuali saat malam hari, bisa dengan mudah kubuka meski rumah tampak sepi bagai tak berpenghuni. Di teras, aku mengucap salam, tapi tidak ada jawaban. Hanya ada pintu yang terbuka sejak tadi.
Aku masuk, tak mendapati seorang pun di ruang tamu, kemudian meneruskan langkah ke ruang tengah. Dengan mata kepalaku, sekilas kulihat Bunda sedang terisak, lalu terlonjak dan buru-buru menghapus air matanya yang jatuh ke pipi saat menyadari kedatanganku.
"Bunda kenapa?" tanyaku yang mendekat dan mencium tangannya.
Di kursi, ada setumpuk kain yang sepertinya baru selesai dilipat.
"Itu, tadi abis nonton film sedih banget," jawab Bunda sambil melanjutkan melipat kain yang masih ada di pangkuannya.
Aku membulatkan mulut membentuk huruf o. "Ayah belum pulang?" tanyaku lagi.
"Udah. Lagi keluar, isi bensin. Coba kamu telepon, tanya sekarang ada dimana. Takutnya malah ke stasiun jemput kamu karena ngiranya kamu belum nyampe."
"Lho ... kan, Mar udah bilang enggak usah jemput."
"Kayak enggak tau Ayahmu aja."
Bunda benar. Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya. Terutama kalau aku pulang dari berpergian malam hari. Tapi, kan, ini bahkan belum maghrib.
Kutelepon Ayah, menanyakan posisinya sekarang dimana seperti kata Bunda, dan syukurlah ternyata Ayah sudah di jalan pulang, baru selesai mengisi bensin. Ayah tidak sampai menjemputku ke stasiun.
"Ya udah, Mar mandi dulu, Bunda."
"Udah shalat ashar?"
"Udah, tadi di stasiun."
Aku beranjak menuju kamar untuk mandi, setelah itu menutup jendela karena mentari sudah turun dan hari mulai gelap. Sambil menunggu waktu maghrib, aku membuka laptop di meja belajar. Membuka satu draft yang beberapa kali sempat disentuh, tapi tak pernah dilanjutkan lagi. Salah satu isinya adalah tentang kisah Teruo Nakamura yang kucatat untuk bahan menulis.
Teruo Nakamura adalah seorang tentara sukarela asal Taiwan yang direkrut menjadi pasukan khusus Jepang pada perang dunia kedua. Namanya dikenal karena baru keluar dari hutan Morotai tahun 1974 setelah bersembunyi selama tiga puluh tahun sebab mengira Sekutu masih menguasai Morotai. Cara Nakamura bertahan hidup di hutan selama tiga puluh tahun, cerita persahabatannya dengan seorang warga desa yang bertemu dengannya saat sedang berburu di hutan, hingga kisah penjemputannya oleh Kepala Staf Angkatan Udara dari Jakarta dengan pesawat Hercules kala itu, semua aku catat dalam satu draft.
Dan jika sebelumnya aku mencatat kisah tentara dari pasukan Jepang, maka di draft yang sama, aku juga pernah mencatat nama seorang prajurit dari pasukan Sekutu. Namanya R.S. Boender. Seorang prajurit yang lahir tahun 1920 dan pernah menjadi anggota The Rainbow Division, divisi yang terkenal selama Perang Pasifik.
Beliau adalah mahasiswa Indonesia yang saat pengeboman Pearl Harbour oleh Jepang tahun 1941 sedang menjalani masa kuliah di California. Kisahnya yang terkena wajib latih militer setelah pengumuman perang terdengar sampai ke telinga rakyat Amerika ini pernah aku baca dalam buku yang ditulis oleh Hana Rambe dengan judul Terhempas Prahara ke Pasifik.
Buku itu terbit tahun 1982 dan berhasil mengaduk-aduk perasaanku yang baru membaca seperempatnya. Belum aku tamatkan membaca karena kadung berputus asa atas risetku tentang Perang Dunia II dan Morotai yang tak kunjung selesai.
Masih di draft yang sama pula, aku pernah mencatat beberapa nama tempat yang menarik untuk dikunjungi di Morotai, termasuk nama-nama penginapan di daerah Morotai Selatan.
Mutiara di bibir pasifik itu tak lepas dari sejarah PD II. Maka, tempat yang dicatat di urutan pertama ialah Museum Swadaya Perang Dunia II milik Bapak Muhlis Eso. Tempat yang tepat untuk napak tilas.