Aroma petrichor rutin menyapa indera penciuman beberapa hari terakhir. Sehelai kain batik membalut tubuhku, tapi yang sebenarnya menyelimuti adalah gelap. Bukan bersebab lampu yang tidak dinyalakan. Bukan juga karena awan hitam masih betah di langit. Lebih gelap daripada itu semua. Sepasang netra menatap kosong pintu kamar yang semakin jarang terbuka. Di lantai, bentangan sajadah kubiarkan diterpa udara lembab.
Aku masih berharap semua hanya mimpi. Namun kenyataannya, satu kabar telah mengguncang duniaku. Kabar kapal terbalik dan kemudian tenggelam itu terdengar lebih menyakitkan dari berita mana pun yang pernah aku dengar. Pasalnya, ombak menghantam kapal yang membawa satu nama indah yang kukagumi sejak awal. Moluccas Kahfi.
Dia pernah hadir di hidupku sebagai orang yang membuatku melupakan sejenak keinginan untuk tidak menikah. Namun, sialnya aku selalu merasa tidak layak untuk siapa pun. Luka yang diwariskan di rumah membawaku pada sebuah pendirian yang memaksaku melepasnya. Pendirian yang akhirnya menjadi penyesalan terbesar karena dia terenggut sebelum kami punya lebih banyak waktu untuk jujur pada perasaan yang terlanjur menyelinap.
Sebuah tragedi telah merenggutnya. Tanpa suara dentuman keras, tanpa darah, hanya gelombang yang sempat menariknya menari di tengah hamparan laut biru, kemudian menghantarkan raganya pulang ke daratan tanpa mengembalikan jiwanya.
Hari itu, mereka berangkat dari rumah orang tua angkat Mas Kahfi untuk pulang ke Jakarta, harusnya. Namun, di tengah jalan, cuaca buruk menghadang kapal yang mereka tumpangi. Kedua temannya selamat dari tragedi itu. Hanya dia dan seorang penumpang lain yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia setelah sempat dinyatakan hilang.
Dia pulang tak membawa apa-apa, kecuali kemeja hitam dan celana panjang berwarna krem yang melekat di tubuhnya, yang juga pernah dia kenakan di pertemuan pertama kami. Lebam menghiasi wajah yang selalu terlihat tenang itu hingga detik terakhir. Dan sampai hari ini, visual itulah yang masih berkelindan di kepalaku.
Tubuhku meringkuk, mengeratkan lilitan kain batik untuk menghalau dingin yang bukan lagi menusuk tulang, tapi hati. Tak berselang lama, suara ketukan pintu mengusik kesendirian yang sunyi.
"Mar, Ayah masuk, ya?"
Aku hanya diam. Tak menjawab pun, Ayah tetap akan masuk.
"Mar, temenin Ayah, yuk," ajak Ayah yang berjalan mendekat ke tempat tidurku.
Aku lantas bertanya, "Kemana?"
"Ada deh. Nanti juga tau."
"Hujan, Yah. Males."
"Kan, bisa pakai jas hujan. Ayolah. Masa Ayah pergi sendirian."
Dengan kaki yang terasa berat dilangkahkan, aku menuruti mau Ayah, walaupun masih belum tahu akan kemana tujuannya.
Langkah lunglaiku berhenti di teras saat Ayah menyerahkan jas hujan untuk aku kenakan, sambil Ayah juga memakai jas hujan miliknya, lalu mengelap jok motor yang basah.
"Pakai jas hujannya, Mar."
Aku memakai jas hujan berwarna merah muda sembari menatap langit yang belum juga terang. Ironis, langit seolah sedang menebak perasaanku dengan cara menurunkan gerimis.
Sepanjang perjalanan, aku hanya merebahkan kepalaku di punggung Ayah, tanpa mempedulikan pipiku yang jadi basah karena jas hujan yang Ayah pakai, juga tidak lagi bertanya Ayah akan membawaku kemana. Namun, sepertinya aku tahu jalanan yang kami tempuh mengarah kemana. Dan tebakanku benar. Ayah mengajakku ke rumah produksi batik miliknya.
Setelah memarkir motor, melepas helmet dan jas hujan, aku dan Ayah masuk, menyapa beberapa orang yang sempat berpapasan dengan kami. Sudah lama aku tidak ke sini. Di dalam ruangan, para pembatik masih setia dengan cantingnya, meski di luar hujan mulai deras mengguyur. Semua pengrajin batik tulis di sini adalah kaum hawa. Berbeda dengan yang di bagian produksi batik cap dan printing, didominasi kaum adam.
Ternyata Ayah mengajakku ke sini untuk melihat-lihat proses pembuatan batik sekaligus memberi wejangan.