Ruang tengah yang biasanya dihiasi aroma pisang goreng dan teh melati, kini dipenuhi ketegangan. Laptop sudah menyala di atas meja. Layarnya menampilkan persiapan di ruang terbuka dengan wajah orang-orang yang tak kalah tegang. Aku, Ayah, dan Bunda, siap menyaksikan siaran langsung lomba panahan berkuda yang Mbak Hajar ikuti.
Harusnya hari ini kami semua di sana untuk menyaksikan langsung. Namun di luar rencana, kemarin Ayah mendadak tidak enak badan. Bunda memutuskan kami tidak jadi berangkat dan menonton dari rumah saja agar Ayah bisa istirahat.
"Keren banget anak kita, Bun," seru Ayah penuh bangga saat kamera menyorot wajah Mbak Hajar di waktu pemanasan.
Bunda ikut tersenyum sumringah melihat si anak tengah dari layar datar.
"Semoga selama lomba, di sana enggak hujan, ya," lirih Bunda seraya menatap keluar jendela. Di sini, langit mulai dihiasi awan gelap, tapi sepertinya di tempat perlombaan masih cerah.
Perlombaan ini adalah perlombaan kesekian yang Mbak Hajar ikuti sejak usia belasan. Dulu, aku juga sering diajak Ayah menemani Mbak Hajar latihan bersama seorang temannya Ayah yang merupakan pelatih profesional. Dari beberapa perlombaan itu, sudah dua kali Mbak Hajar pulang membawa predikat juara. Hari ini, mungkin saja kali ketiga.
Pemanasan selesai, perlombaan dimulai.
Lomba kali ini pesertanya lumayan banyak. Diikuti oleh berbagai kalangan usia dan dibagi menjadi beberapa kategori.
Waktu yang ditunggu pun tiba. Kamera mulai mengarah pada sebuah lintasan lurus yang akan segera digunakan sebagai track lomba. Lima target disiapkan di sisi-sisinya. Suasana tegang semakin pekat.
Peserta pertama di kategori putera datang dari luar pulau Jawa, keluar bersama kuda coklatnya yang gagah, berlari kencang di lintasan, dan mengundang teriakan penyemangat dari para pendukung yang menyaksikan langsung.
Posisiku, Ayah, juga Bunda, sekarang sudah sama-sama duduk di kursi panjang ruang tengah. Kami menatap ke satu arah yang sama. Satu per satu peserta disaksikan, semakin tegang dan semakin tegang, hingga tibalah giliran nama Hajar Srikandi Hakim disebut. Kami semua bersorak sewaktu Mbak Hajar muncul bersama seekor kuda putih yang tampak sangar. Dia menunggangi kudanya dengan mengenakan semacam rompi di badan yang menarik perhatian kami yang menonton di rumah. Setelah dilihat lebih jeli, ternyata itu bukan rompi, melainkan kain batik Truntum pemberian Ayah yang entah dililitkan bagaimana hingga menyerupai rompi.
Di sinilah ketegangan memuncak. Hanya kurang dari dua puluh detik, tapi tegangnya menembus layar. Ayah kembali bersorak saat Mbak Hajar menyelesaikan target terakhir. Sorakan yang terlalu bersemangat hingga Ayah terbatuk tak kunjung henti.
"Ayah, Ayah kenapa?" tanyaku panik ketika melihat Ayah memegangi dada kirinya sambil berusaha mengatur napas.
Bunda berlari mengambil air, lalu membantu Ayah untuk minum dan memandunya agar bisa bernapas lebih tenang. Tangan Bunda mengusap-usap bahu Ayah yang membungkuk.
"Kita ke rumah sakit, ya. Udah dua hari belum juga membaik, lho, Yah." kata Bunda pada Ayah.
Ayah menolak, "Enggak usah. Ayah gakpapa. Cuma keselek aja tadi."
"Ya udah kalau gitu, istirahat aja di kamar, ya."
Aku dan Bunda menuntun Ayah ke kamar, menyuruhnya istirahat karena tak ingin kondisinya sampai memburuk. Sementara Ayah beristirahat, aku dan Bunda kembali ke ruang tengah, melanjutkan menonton siaran langsung yang sejak tadi belum dimatikan.