Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #17

Mihrab di Tenda Pengungsian

Sepasang netraku menatap dalam-dalam dua gambar yang baru saja dicetak di kertas HVS. Tanganku mengambil selotip dan menempel gambar-gambar itu di dinding dekat meja belajar. Di atas kasur, laptopku menyala, aku tergabung di sebuah aplikasi rapat bersama teman-teman Mas Kahfi.

Aku tidak mengerti kenapa mereka mengundangku ke rapat ini. Mereka hanya bilang, "Ini bukan rapat GNK, jadi santai aja."

Setelah memastikan gambar-gambar tadi tertempel di dinding pada posisi yang sempurna, aku mendekat ke arah kasur untuk menyimak apa yang akan mereka bicarakan sampai aku turut diundang.

"Yaps! Berhubung udah kumpul semua, kita mulai aja obrolannya, ya." Si influencer membuka percakapan.

"Tunggu, tunggu. Ini cuma berlima?" tanyaku.

Berlima yang kumaksud adalah aku, tiga teman Mas Kahfi yang waktu itu kutemui di Cirebon, dan satu teman laki-lakinya lagi yang tidak aku kenal. Kami benar-benar hanya berlima. Rapat ini jadi terasa seperti reuni teman satu circle waktu SMA.

"Ya, berlima aja. Karena emang yang mau kita bahas di sini ada hubungannya sama Mas Kahfi. Pribadi. Jadi, cuma orang-orang dekat aja yang tau."

Aku jadi semakin penasaran. Jantungku berdegup lebih cepat saat mendengar nama itu kembali disebut.

"Langsung aja kali, ya? Di sini cuma Maryam yang belum tau. Gue jadi bingung harus mulai dari mana jelasinnya."

Apa ini? Apa yang aku belum tahu?

"Jadi gini, Mar, dan yang lain juga." Satu-satunya teman perempuan Mas Kahfi yang ada di ruang rapat virtual ini mengambil alih peran untuk menjelaskan. "Kita semua, kan, tau kalau kemarin, ada saudara-saudara kita yang kena musibah banjir bandang, ya. Nah, di sini, kita mau bahas itu."

Oh, jadi itu. Aku memang sempat melihat beritanya ada dimana-mana. Memancing keprihatinan mendalam dari hatiku yang tak pernah bisa membayangkan ada di posisi mereka.

"Dan buat Maryam yang belum tau, kemarin kita berempat disuruh datang ke kantornya Mas Kahfi."

Bukan. Ternyata ini bukan hanya pembahasan soal bencana alam. Lebih dari itu, teman perempuan Mas Kahfi yang juga pacar si influencer ini menjelaskan kenapa mereka diminta datang ke kantornya Mas Kahfi.

Orangnya Mas Kahfi yang menyuruh mereka datang. Ternyata di sana, di ruangan milik Mas Kahfi yang sudah tidak lagi berpenghuni itu, sebuah surat wasiat dibacakan di depan mereka berempat. Orang-orang terdekat yang selalu setia menemani Mas Kahfi sampai di detik-detik terakhirnya.

Dalam surat wasiatnya, Mas Kahfi menyatakan bahwa perusahaan dan sebuah bisnis yang baru dirintis sepenuhnya telah diserahkan kepada seorang wakil yang selama ini menjadi tangan kanannya. Adapun aset lain berupa unit apartemen dan sepertiga tabungan dengan jumlah fantastis diberikan untuk orang tua angkatnya di Maluku. Mas Kahfi berpesan agar unit apartemen itu tidak dijual. Dia ingin apartemennya bisa menjadi tempat singgah ketika orang tuanya berkunjung ke Jakarta, atau syukur-syukur ditempati jika mau.

Sementara itu, aset lain berupa kendaraan dan duapertiga tabungan, dia sumbangkan untuk keberlangsungan GNK atau untuk apa pun yang bisa membawa kebermanfaatan bagi banyak orang. Mas Kahfi mempercayakannya kepada mereka berempat.

Lihat selengkapnya