Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #18

Duka Kehilangan

Keluar dari tenda usai shalat, aku masih mendapati bapak tua itu duduk di atas sajadahnya yang beralaskan sebuah tikar. Beliau masih melantunkan ayat Al-Qur'an yang tampak dihafalnya di luar kepala, benar-benar tanpa mushaf. Dan surah yang dibacakan bukan lagi asing di telinga. Surah Al-Kahfi. Aku jadi ingat kalau ini malam jumat, sedangkan aku belum menderas Qur'an.

Dari depan tenda, aku masih memperhatikan pemandangan mahal malam ini. Setelah bacaan Qur'annya disudahi, bapak tua itu memutar tasbih sambil sesekali memejamkan mata. Tak lama kemudian, beliau menengadahkan tangan dan wajahnya ke langit. Namun, selesai berdoa, kulihat beliau masih belum juga beranjak.

Akhirnya, kuputuskan menghampiri, kutemani, dan kuajak mengobrol.

"Pak, permisi. Bapak kenapa shalatnya di sini? Kenapa enggak di dalam tenda aja?"

"Gakpapa, enak di sini. Sesekali aja saya shalat di sini, biasanya juga di tenda."

Bapak itu awalnya tampak kaget. Akan tetapi, beliau tidak menolak kehadiranku yang tiba-tiba. Si bapak bahkan sedikit menggeser posisi duduknya agar aku punya tempat untuk duduk juga di atas tikar lusuh nan alakadarnya itu.

"Oh, gitu? Kenapa enak shalat di sini, Pak?" tanyaku lagi, mulai mempertanyakan dalam hati, dimana letak enaknya shalat sendirian di antara puing-puing reruntuhan seperti ini?

"Ya, enak aja. Bisa lebih khusyuk. Habis shalat juga bisa duduk sambil lihat langit."

Aku mengangguk paham. Jawaban si bapak sampai di telingaku dengan sangat jujur.

"Bapak emang suka mandangin bintang-bintang kalau malam begini, ya?"

Ada tatapan nanar di matanya yang kini menatap ke arah bulan purnama.

"Biasanya kalau lagi rindu sama istri," jawabnya lebih jujur dan semakin terbuka.

Sekarang aku mengerti.

"Istri saya hanyut terbawa banjir, Nak." Bapak itu mulai bercerita tanpa diminta. Perasaan kehilangannya dapat terbaca dari sorot mata dan caranya mengasingkan diri di sini.

Aku yang mulai berempati hanya duduk menyimak, bersedia menjadi pendengar bagi dukanya malam ini.

"Kalau rindu, ya, kemana lagi saya harus pergi, kan? Kepada siapa lagi saya bicara? Dia udah enggak ada. Makanya, saya cuma bisa duduk di sini, menatap langit untuk mengenang istri."

Kalimat yang dalam. Batinku seketika menjerit mendengarnya. Aku mendongak, mengikuti arah pandang si bapak yang melesat jauh ke langit yang pekat.

"Kalau kamu pernah kehilangan, coba aja duduk di luar sambil tatap langit malam-malam begini. Apalagi kalau bulannya lagi purnama kayak sekarang. Kalau saya, biasanya bayangin bintang sama bulan itu kayak wajah istri saya yang lagi senyum." Tangan si bapak menunjuk ke arah bulan yang terang dan bulat sempurna.

"Kenapa gitu, Pak?"

"Soalnya kalau saya bayangin kayak gitu, saya jadi yakin kalau istri saya udah di tempat yang lebih baik. Dengan begitu, sedihnya jadi berkurang."

Aku mengangguk setuju sambil masih menatap satu bintang yang tidak begitu terang, tapi juga tidak redup.

"Duka karena kehilangan itu bukan duka yang bisa diremehkan. Ke psikolog juga harus pakai duit. Kalau mau yang murah atau gratisan, ya, begini caranya."

Beliau benar. Setiap manusia menyimpan lukanya masing-masing, sekaligus punya cara sembuhnya masing-masing. Bagi sebagian orang, langit malam yang gelap mungkin tak berarti apa-apa. Namun bagi yang pernah kehilangan, justru di kegelapan dan kesunyian seperti inilah mereka merasa tidak sendiri.

Aku mendadak teringat obrolan dengan seseorang tadi pagi.

"Lo kenapa takut laut?" tanya teman laki-laki Mas Kahfi yang waktu itu ada di ruang rapat virtual bersama tiga orang lain yang aku kenal.

Lihat selengkapnya