Mata yang semula diberatkan oleh kantuk, seketika terbelalak dan memanas begitu membaca kabar kehilangan, sekali lagi.
Pesan itu dikirim Mbak Hajar tadi malam dan baru masuk ke ponselku karena selama di posko tidak ada jaringan sama sekali. Duniaku runtuh. Jiwaku bagai kehilangan pegangan. Ketakutan terbesarku selama ini benar-benar telah terjadi.
Aku mulai merutuki diri. Sebelum pergi, Mas Kahfi sudah pernah berpesan padaku agar aku bisa lebih berani jujur. Sekarang, semuanya terlambat. Sebuah kebohongan yang aku tutupi telah merenggut Ayah, sama seperti ketidakjujuranku pada diri sendiri yang membiarkan Mas Kahfi pergi begitu saja. Yang membedakan, kepergian Mas Kahfi hanya bisa membuatku menahan tangis di dalam kamar, sedangkan berita kepergian Ayah membuat tangisku tumpah ruah. Menggegerkan satu rombongan di satu mobil yang sudah hampir sampai di tempat tujuan.
Semua orang menguatkan. Satu-satunya perempuan di mobil kami selain aku, pun memberi sebuah pelukan. Tangisku pecah selama di pesawat, membayangkan Ayah sudah dimakamkan karena aku terlambat mengetahui semuanya. Kubayangkan Ayah menunggu, tapi aku tak kunjung datang. Di pesawat, kupeluk-peluk kain batik dari Ayah sambil mengingat kalau aku bisa ikut jadi relawan kemarin itu karena Ayah, padahal Bunda tidak memberi izin.
Suara Ayah yang mengantarku ke stasiun terakhir kali, terus berputar di ingatan. Ayah bilang padaku, pulanglah dengan selamat, tapi justru Ayahlah yang tidak selamat.
Perasaanku semakin tak karuan. Untungnya, aku tidak sendirian. Selama penerbangan bahuku terus dirangkul dan sesekali diusap pelan. Walaupun terkadang, usapan lembut itu menjadikan air mataku mengalir kian deras. Sampai tiba saatnya pesawat akan landing, mataku menatap perairan yang seolah menyapa.
Dari bandara, aku tidak dibiarkan pulang sendirian. Satu teman Mas Kahfi mengantarku sampai stasiun dekat rumah, kemudian aku dipesankan taksi online.
Langkahku gontai ketika turun dari taksi dan melihat sebuah bendera kuning melambai di depan pagar, menyambut kepulanganku.
Aku ingin bilang, "Ayah, aku pulang."
Tapi, kenapa, Tuhan, Engkau malah membuatku bertanya, "Kemana lagi aku harus pulang setelah ini?"
Barang-barangku diturunkan dari bagasi, kemudian dibawa dan ditinggalkan begitu saja di teras. Aku langsung masuk karena di depan tidak ada siapa-siapa.
Begitu kaki memasuki ruang tamu, hanya ada karpet yang tergelar dengan sisa-sisa harum melati. Aku mencari orang-orang ke ruang tengah dan menemukan Mbak May sedang duduk bersama Mbak Hajar di sana. Mereka tidak langsung berdiri saat aku datang. Kami semua sempat terpaku sejenak, saling menatap dengan mata yang sama-sama sembab.
Tak lama, Mbak Hajar lebih dulu bangkit dari duduknya, disusul Mbak May.
Plakk!
Satu tamparan selamat datang dihadiahkan Mbak Hajar ke pipiku. Dengan napas yang memburu, dia berkata, "Kenapa susah banget dihubungi? Kemana aja kamu?"