Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #20

Meja Makan Tanpa Ayah

Satu hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelum Ayah pergi adalah rumah bisa berubah rasa dan bentuk hanya dalam sekejap. Meja makan berubah sepi. Kehangatannya ikut terkubur bersama harapan sederhana Ayah yang runtuh dalam satu malam.

Bunda masih suka membuat teh di sore hari, tapi teh itu hanya dibiarkan di meja ruang tengah. Dari panas ke hangat, hangat ke dingin. Bahkan secangkir teh pun turut kesepian.

Mbak May pergi meninggalkan rumah, entah kemana. Mbak Hajar masih belum bicara padaku setelah peristiwa penamparan kemarin. Dan pagi ini, aku melihat Bunda menatap foto yang tergantung di dinding kamar. Sekilas, aku mendengar ucapan lirihnya.

"Apa kita udah salah mendidik anak-anak?"

Aku dan Mbak Hajar yang sama-sama mengintip dari sela-sela pintu yang sedikit terbuka akhirnya saling melempar pandang. Sebelum masuk dan menanyakan alasan Bunda memanggil, kami mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku dan Mbak Hajar sama-sama tahu, Bunda menghapus air matanya sebelum mengizinkan kami masuk.

"Bunda panggil Mar? Ada apa, Bunda?"

"Bunda mau kalian cari Mbak May. Gitu-gitu juga dia itu kakak kalian. Apalagi sekarang dia lagi hamil. Cari dia dan ajak dia pulang."

Permintaan Bunda itu membuat aku dan Mbak Hajar pelan-pelan mulai bicara lagi. Kami sepakat untuk sama-sama menghubungi Mbak May, menanyakan keberadaannya, dan membujuknya agar mau pulang. Namun, nyatanya tidak semudah itu. Mbak May tidak membalas pesan kami. Dia juga tidak mengangkat teleponku maupun Mbak Hajar. Kami berdua tidak bisa menjemput karena tidak tahu Mbak May ada dimana.

Seminggu pertama tanpa Ayah, dunia seperti berhenti berputar. Hidup berubah seratus delapan puluh derajat. Sampai akhirnya, suara ketukan pintu terdengar.

"Siapa itu, Mar?"

Aku dan Bunda keluar bersamaan dari kamar kami masing-masing. Masih sama-sama mengenakan mukena karena baru selesai shalat maghrib dan sedang menunggu waktu isya. Tak lama, Mbak Hajar menyusul keluar dari kamar mandi.

"Enggak tau, Bunda. Coba Mar buka, ya."

Kakiku melangkah mendekati pintu, kemudian kuncinya diputar satu kali. Pintu yang dibuka menampilkan seseorang yang beberapa hari ini ditunggu kabarnya oleh seisi rumah. Tanpa percakapan basa-basi, aku lantas menyuruhnya masuk. Kulihat Bunda tampak senang menyambut kedatangannya. Bunda langsung menarik tangan puteri sulungnya itu dan mengajaknya duduk berbincang ringan di ruang tengah.

Untungnya, azan isya lekas berkumandang. Kami jadi berpencar masuk kamar dengan alasan shalat, tidak perlu terjebak di tengah kecanggungan yang mungkin belum bisa kami atasi.

Usai shalat, Bunda mengetuk pintu kamarku dan Mbak Hajar untuk makan malam bersama di meja makan. Sejak Ayah masih ada, bahkan sejak kami masih kecil, aku memang berbagi kamar dengan Mbak Hajar karena rumah ini hanya punya tiga kamar. Satu kamar untuk Ayah dan Bunda, satunya lagi ditempati Mbak May seorang diri.

Mbak Hajar bangkit dari kasur, mengikat rambut panjangnya yang sudah sampai menyentuh pinggang. Aku dan dia keluar berbarengan menuju meja makan. Di sana, Bunda dan Mbak May sudah menunggu.

"Piringnya di atas meja tuh, udah Bunda siapin. Ayo, makan," ajak Bunda.

Aku mendaratkan pantat di salah satu kursi sambil menatap satu kursi kosong. Kursi yang biasa diduduki Ayah. Kenapa aneh sekali rasanya melihat kursi itu tak lagi berpenghuni?

Lihat selengkapnya