Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #21

Detik Berhenti Berdetak

Mataku tak berkedip menatap jarum jam yang sudah tak lagi bergerak. Jam rantai berwarna silver yang aku berikan pada Ayah sebagai kado ulang tahun waktu itu, rupanya mati. Entah karena baterainya habis atau memang mesinnya yang rusak.

Jam itu kutemukan saat membereskan kamar Bunda yang nakasnya terlihat berantakan. Mengejutkannya, yang membuatku tak berkedip menatap jam itu adalah jarum panjangnya yang berhenti tepat di angka sembilan, sedangkan jarum pendek berhenti di angka tiga. Angka-angka itu, sama persis dengan angka yang tercatat sebagai waktu kematian Ayah. Pukul sembilan lebih lima belas malam.

Sebuah kebetulankah? Atau memang kesengajaan semesta agar jam tangan Ayah itu jadi kenang-kenangan terakhir yang akan terus kami simpan?

Akhirnya, aku keluar dari kamar Bunda dengan mengantongi jam tangan itu, berniat memperbaikinya dan berharap jamnya masih bisa menyala.

Malam harinya, aku dan kedua kakakku berkumpul di satu kamar saat Bunda sudah tidur. Awalnya, hanya berniat membicarakan rencana ke depan. Soal toko, soal rumah dan pekerjaan Mbak Hajar di Jakarta, serta Bunda, lalu ternyata berubah menjadi perbincangan berbau penyesalan.

"Apa sebaiknya Mbak resign aja, ya, Mar?" tanya Mbak Hajar padaku setelah aku bilang mulai sekarang akulah yang akan turun langsung mengurus toko.

Belum sempat aku menjawab, Mbak May menanggapi, "Yakin kamu, Haj? Terus rumah kamu di sana gimana?"

Aku mengangguk sepakat. "Paling enggak, rumah dilunasin dulu, Mbak. Baru setelah itu, Mbak pikir lagi. Kalau emang mau pindah ke sini, tinggal rumahnya dijual," tambahku.

"Kalau itu, gampang sih. Bisa dilunasin dari sini. Mbak bisa cari kerja di sini buat bayar sisa cicilannya. Soal dijual atau enggak, itu dipikir nanti deh, yang penting Mbak di sini dulu. Soalnya enggak tenang kalau harus ninggalin Bunda dan belum mastiin toko aman."

Mbak May dan aku sama-sama berpikir. Sementara itu, Mbak Hajar melanjutkan perkataannya.

"Jujur, Mbak nyesel dulu nolak kemauan Ayah. Harusnya Mbak turutin aja maunya Ayah waktu itu buat masuk kedokteran."

Kali ini, aku dan Mbak May belum mau menanggapi apa-apa. Kami membiarkan Mbak Hajar mengungkap isi hatinya.

"Kalau Mbak dulu masuk kedokteran, mungkin bisa lebih ngerti sama kesehatan Ayah." Dia berdecak. "Mbak malah milih jadi koki dan enggak pernah mastiin Ayah minum obat tepat waktu," pungkasnya.

Ungkapan hati Mbak Hajar itu tampaknya membuat Mbak May berpikir dalam-dalam. Tiba-tiba saja dia menitikan air mata dan mengatakan, "Sampai hari ini, Mbak bahkan belum bisa maafin diri Mbak sendiri."

Aku dan Mbak Hajar mengusap lembut punggungnya bersamaan.

"Kalau aja malam itu Mbak enggak pulang kayak apa kata kamu, Mar, mungkin Ayah masih di sini sama kita."

"Aku juga nyesel karena enggak ada di samping Ayah waktu itu," sahutku.

Lihat selengkapnya