Maryam Tanpa Mihrab

Nur Azizah
Chapter #22

Halaman-Halaman Tabir

Matahari mulai bersinar lagi setelah musim hujan yang panjang. Cahaya dhuha menyinari benih-benih yang bertunas dan bunga-bunga telah bersemi. Pagi ini, tanganku kembali melipat rapi sajadah yang beberapa menit lalu aku gelar, setelah sajadah sebelumnya aku bawa ke mesin cuci karena sudah lama dibiarkan terbentang di lantai kamar.

Dari sajadah yang pernah dibiarkan terbentang di lantai, aku mengerti bahwa empat kali pertemuan singkat bisa mengubah banyak hal. Mas Kahfi mengajarkan kejujuran dan semesta mengajariku untuk menghargai setiap pertemuan.

Dari sajadah yang pernah dibiarkan terbentang di lantai, aku mengerti bahwa ada doa yang memang mampu mengubah keadaan, tapi ada juga doa yang mengubah diri orang yang berdoa dan akhirnya mengubah wujud doa itu sendiri.

Contohnya, aku yang berdoa dalam keadaan selemah-lemahnya hamba, meminta semua yang pergi dan hilang dikembalikan. Namun, Tuhan tak mengabulkannya hingga bunyi doaku berubah. Bukan lagi minta yang hilang dikembalikan, melainkan minta pertolongan berupa kekuatan.

Pintu kamar terbuka, aku siap menyambut hari. Setelah bersiap, aku menyusul kedua kakakku yang sudah lebih dulu berangkat ke rumah produksi batik.

Bantuan yang Mas Kahfi berikan tak berujung sia-sia. Pelan tapi pasti, semua akhirnya mulai membuahkan hasil. Aku dan Mbak May jadi semakin semangat untuk bahu-membahu mengemban amanah ini. Mbak Hajar juga rutin pulang seminggu sekali, tak mau kalah ingin ambil peran.

Dari rumah produksi, bersama-sama kami berangkat menuju toko. Sempat menatap lama bangunan toko dari luar, sebelum akhirnya masuk saat kedatangan dua orang tamu istimewa.

"Maaf kalau kedatangan kita mengganggu, Mar," ucap si tamu yang tidak lain merupakan sahabat dekat Mas Kahfi.

Aku mengajak dia dan Naomi masuk untuk mengobrol di sebuah ruangan tertutup di dalam toko, bersama Mbak May dan Mbak Hajar juga. Awalnya, aku mengira kedatangan mereka hanya sekadar ingin melihat-lihat toko. Namun, rupanya lebih daripada itu.

Sahabat laki-laki Mas Kahfi yang pernah mengobrol denganku di posko pengungsian itu datang untuk memberikan sebuah buku catatan berukuran cukup besar, serta sebuah ipad. Tentu, aku mengernyitkan dahi karena tidak tahu apa maksudnya.

"Kahfi titip ini ke gue buat dibawa pulang ke Jakarta, sebelum dia sama Naomi dan Galih berangkat ke rumah orang tua angkatnya," terang laki-laki itu setelah aku bertanya.

Aku masih tidak mengerti kenapa semua ini mereka bawa ke sini, kepadaku.

"Buku sama ipad ini tadinya gue simpan di meja kerja dia sesuai perintah. Dan kita minta maaf karena kita baru buka ini kemarin, waktu mau cari dokumen GNK."

Semakin tidak mengerti, aku menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Di buku ini, ada catatan tangan Kahfi. Catatan keuangan buat ke Morotai. Semacam corat-coret pengeluaran gitu. Coba lo buka deh, Mar."

Manut, dengan ragu kubuka buku bersampul hitam itu. Tanganku mencari halaman yang baru saja diceritakan, tapi justru yang terbuka adalah halaman depan yang berselipkan sebuah foto. Potret Mas Kahfi duduk di atas motor mengenakan jaket hitam sambil menenteng helmet. Aku sontak tersenyum ketika melihat fotonya yang tampak sangat keren itu.

Lihat selengkapnya