"Ini uang yang udah Kahfi siapin buat ongkos lo ke Morotai. Sisanya, kayak penginapan dan lain-lain, lo tinggal kasih tau aja mau berangkat kapan, nanti kita yang atur semuanya."
Sebuah amplop coklat tebal disodorkan kepadaku. Aku tidak langsung menerima karena baru melihatnya saja, tanganku sudah gemetar.
"Terima, Mar. Ini dari Kahfi, bukan dari gue."
"Aku harus bilang ke Bunda dulu kalau mau ke sana, Kak."
Mbak Hajar yang sejak tadi hanya diam di tempatnya berdiri, kini menyahuti, "Nanti Mbak bantu bilang ke Bunda kalau emang kamunya mau, Mar."
Aku jadi bingung harus bagaimana. Lagipula, sudah kulupakan riset itu sejak lama. Kalau aku ke Morotai sekarang, aku juga tidak yakin ini akan jadi perjalanan yang menyenangkan. Karena mungkin saja, aku akan menangisi banyak hal yang kutemui di sana.
Sahabat Mas Kahfi kembali membujuk, "Ya udah, ambil dulu aja, Mar. Kalau udah yakin, tinggal kasih tau kita mau berangkat kapan."
Alhasil, dengan tangan gemetar, aku menerima amplop uang itu. Kalau saja bukan karena gengsi, aku pasti sudah menangis detik itu juga. Percuma risetku rampung kalau aku harus pergi ke sana sendirian, ditambah harus membawa serta kenangan yang menolak mati. Sebab sejak mengenal dia, bayangan Morotai di kepalaku tak lagi sama. Morotai bukan lagi hanya tentang sejarah perang dan garis pantai yang indah, tapi juga tentang kenangan terakhir yang memilukan. Morotai menyimpan sejarah kami. Dua anak manusia yang menjadi asing karena enggan jujur pada perasaannya sendiri.
"Kalau dibolehin, rencananya mau kemana aja selama di Morotai?"
Aku yang masih mematung seketika mengedipkan mata ketika mendengar pertanyaan itu.
"Aku udah buat list sih, Kak, cuma laptopnya enggak dibawa, ada di rumah. Nanti aku kirim ke Naomi aja, ya."
Lelaki itu tiba-tiba menepuk jidat. "Oh ya, hampir aja kelupaan! Padahal ini intinya."
"Apa?"